logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 16 Februari 2006 MURIA
Line

Penyakit Seksual Sulit Diberantas

KUDUS - Mempertanyakan keperawanan dewasa ini menjadi hal yang sangat menohok bagi kaum hawa. Bahkan hal itu bisa dianggap sebagai pelecehan seksual, jika yang bertanya adalah teman laki-lakinya. Meski demikian, jika melihat pergaulan kaum muda pada masa sekarang terutama dalam berpacaran, hal ini menjadi sesuatu yang dilematis.

Persoalan keperawanan jika dibahas dalam sebuah seminar sehari mengusung tema "Arti Sebuah Virginitas" yang digelar Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, Rabu (15/2) di gedung kampus.

Hadir sebagai pembicara, Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kudus dokter Bambang Kismanu, psikolog M Widjanarko, dan Anisa Listiana dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Kabupaten Kudus.

Pada forum mencuat sejumlah pertanyaan menggelitik dari para peserta. Salah satunya Sudarbi. Dia mempertanyakan nasib perempuan korban pemerkosaan. Peserta lain juga menyoal mengenai keberadaan kondom berikut kemunculan anjungan tunai mandiri (ATM) kondom, yakni semacam mesin penjualan kondom dengan sistem kerja seperti ATM pada bank.

Dengan mesin tersebut, pembeli kondom tidak perlu berhadapan langsung dengan penjual. "Dengan kondom berikut ATM kondom, berkesan pemerintah seolah-olah memperbolehkan seks bebas," ujarnya.

Menanggapi hal itu, Bambang mengungkapkan, kondom muncul lantaran penyakit seksual telah merebak dan sulit diberantas. Kondisi itu juga yang mendorong pemikiran untuk memunculkan ATM kondom. "Kenyataan yang ada, penyakit seksual memang sulit diberantas," tandasnya.

Dalam hal ini, kondom diposisikan sebagai salah satu solusi untuk mengurangi penyebaran penyakit seksual.

Meski demikian, kita tidak bisa menutup mata bahwa keberadaan ATM kondom di Indonesia belum bisa dipandang sebagai sesuatu hal yang wajar. Kondisi itu berbeda dengan apa yang terjadi di Amerika.

Sementara itu, Anisa lebih menyodorkan cara pandang yang bernapaskan gender. Dia mengungkapkan, selama ini masyarakat selalu mempertanyakan keperawanan seorang wanita namun tidak pernah mempersoalkan keperjakaan lelaki.

Widjanarko menuturkan, selama ini virginitas dipandang sebagai sesuatu kekuatan daya tawar perempuan terhadap kaum adam. Akibatnya, wanita membutuhkan energi tersendiri untuk menjaga dan memperhatikannya. (tik-54m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA