logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 16 Februari 2006 SEMARANG
Line

Tanah Sebaiknya Ditahan Bor Pile

  • Perbaikan Jl Pawiyatan Luhur

SEMARANG - DPU Kota Semarang sebaiknya menggunakan bor pile dalam perbaikan Jalan Pawiyatan Luhur yang setiap tahun ambles. Dengan teknologi semacam itu, pergerakan tanah bisa ditahan. Ahli Geoteknik Undip Ir Muhrozi MS, Rabu (15/2), mengemukakan, jalan tersebut melewati semacam patahan yang terus bergerak.

''Jika jalan itu hanya diperbaiki dengan memasang urukan batu dan aspal, suatu saat pasti akan ambles lagi,'' ujar dia.

Dia menyarankan DPU untuk menggunakan teknologi bor pile. Yaitu pengeboran di samping jalan itu sampai mencapai tanah keras. Lubang itu kemudian diisi besi beton dan cor-coran semen. Setelah adonan semen mengeras, bor pile akan bisa berfungsi untuk menahan pergerakan tanah.

Dia mengakui, teknologi tersebut memang mahal. Dia mencontohkan, untuk memasang beberapa titik bor pile pada tanah sepanjang 30 meter butuh dana sedikitnya Rp 1 miliar. ''Namun, itulah teknologi yang pada hemat saya bisa digunakan,'' ujar dia.

Selain bor pile, aliran air di tempat itu juga harus dicari dan kemudian dibuatkan saluran. Tujuannya, untuk menahan agar air tidak masuk ke tanah dan memperparah gerakan tanah. ''Air di wilayah itu harus dibuat saluran langsung ke Kali Garang,'' ucap dia.

Untag Mengeluh

Kerusakan Jalan Pawiyatan Luhur atau di sekitar pintu gerbang Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) juga dikeluhkan pihak kampus. Hal itu karena arus lalu lintas menuju ke wilayah tersebut terganggu, terutama mobil.

Humas Untag Bambang Sunarto menyebutkan, gangguan yang dialami memang tidak dirasakan langsung karena saat ini perkuliahan sedang libur. Aktivitas kampus saat ini hanya wajib daftar ulang (WDU) bagi para mahasiswa yang hendak mengambil mata kuliah. ''Pengalaman lalu, setelah jalan diperbaiki tidak lama kemudian ambles lagi. Sebaiknya diperbaiki yang bagus sekalian agar tahan lama atau dibuatkan jembatan layang,'' sarannya.

Teknik Sipil Untag beberapa waktu lalu telah mengadakan penelitian terhadap jalan tersebut. Hasilnya, di bawah lapisan tanah itu ada semacam kali dari pasir yang akan selalu mengalir ke arah jurang di selatan setiap musim hujan datang. Menurut pandangan Bambang, jika tak segera ditangani dengan baik, patahan tanah dikhawatirkan akan semakin memanjang.

Hal senada disampaikan A Kusnadi, salah seorang dosen di IKIP Veteran. Menurut pendapat dia kerusakan di jalan itu harus ditangani secara total. ''Sebaiknya perbaikan jangan hanya tambal sulam saja tetapi perlu dibuat fondasi yang lebih kuat agar tidak mudah rusak.''

Selama ini, kerusakan tersebut mengakibatkan para dosen, karyawan, dan mahasiswa yang menggunakan mobil dan tinggal di wilayah Semarang atas harus memutar lewat Sampangan untuk sampai di kampus. (sjs, G6-18j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA