logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 16 Februari 2006 KEDU & DIY
Line

Rumah Sakit Diminta Miliki Insinerator

YOGYAKARTA - Beberapa rumah sakit, menurut keterangan Dr Ir Sarto MSc, telah mengolah limbah padat medisnya dengan menggunakan insinerator. Tujuannya untuk mengurangi volume limbah, mendapatkan sisa pembakaran yang non-combustible, dan steril. Karena itu, tiap rumah sakit perlu memiliki alat tersebut.

''Untuk mencapai tujuan tersebut, pembakaran dalam insinerator harus dikendalikan agar bekerja sesempurna mungkin.''

Hal itu diutarakan dosen Fakultas Teknik Kimia UGM Yogyakarta tersebut pada Seminar ''Limbah Institusi Layanan Kesehatan dan Analisis Biaya Pengolahannya'' yang diselenggarakan Strategic Management Training & Consulting Sigma Health Consult di gedung pertemuan (UC) UGM Yogyakarta, Selasa (14/2).

Menurut keterangan Sarto, secara umum kinerja insinerator dinilai dari suhu pembakarannya. Pembakaran dinyatakan sempurna jika suhunya 950 derajat Celcius atau lebih tergantung pada senyawa yang ada dalam limbah.

Gas sisa pembakaran mungkin saja mengandung senyawa-senyawa berbahaya, seperti debu, asam klorida, dan dioksin. Karena itu, gas tersebut perlu dibersihkan dengan sistem pembersihan gas, misalnya dengan scrubber.

Sementara itu, untuk limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan di instalasi rawat inap, rawat jalan, unit gawat darurat, kamar operasi, laboratorium, pusat sterilisasi peralatan medis, dapur, kantin, dan laundry.

Sarto menginformasikan, pengolahan limbah silakukan secara fisika, kimia, dan biologi yang menghasilkan biomassa yang berbentuk lumpur.

Aman

''Sisa lumpur yang telah stabil dikeringkan dalam drying bed yang kemudian dapat dibuang dengan aman. Cairan (air kotor) yang dihasilkan diolah bersama-sama dengan air limbah lain, dalam hal ini dimasukkan ke bak ekualisasi,'' ungkapnya.

Sementara itu, Manajer Teknik Laboratorium Fisika Kimia & Gas BTKL Ir Sigit Hernowo MKes pada seminar tersebut mengemukakan, pada umumnya luka-luka yang terjadi selama proses produksi atau setelah menggunakan detergen adalah sedikit atau kecil.

Biasanya terbatas pada orang-orang yang mempunyai alergi dari produk utama atau salah satu komponen penyusunnya atau karena penyalahgunaannya, misalnya menelan detergen.Risiko khusus meliputi pemakaian asam sulfat, oleum, dan pada pembongkaran chlorohydrin sulfat, caustic soda, dan potash selama sulfonasi dan sulfatasi. (P12-39j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA