| Rabu, 15 Februari 2006 | NASIONAL |
SOSOKMemperolok Diri
TINGGI rendahnya selera humor seseorang, konon, bisa dilihat dari kepiawaian menertawakan diri sendiri. Kalau dia bisa dengan enteng memperolok kekonyolan sendiri, boleh jadi dia jauh lebih humoris dan menyenangkan sebagai kawan bicara ketimbang keasyikan meledek orang lain. Kalau itu ukurannya, siapa bisa menyangkal betapa tinggi selera humor seorang Taufiq Effendi, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara? Ya, di hadapan pada aparatur Pemkot Semarang-yang jelas para anak buahnya-dia tak segan menggunakan diri sebagai bahan candaan. Ketika itu dia sedang bercerita tentang peluang KKN dalam penerimaan CPNS. "Kalau misalnya seluruh formasi CPNS yang dari jalur honorer dijual, kan sugih banget. Memang, jadi orang besar, termasuk menteri itu besar godaannya. Apa maneh menterine bagus kaya ngene?" kata Taufiq Effendi, Senin (13/2). Spontan hadirin yang memenuhi Aula Gedung Moch Ichsan kompleks Balai Kota menyungging senyum atau bahkan ketawa lebar. Termasuk Sekda Jateng Mardjijono dan Wali Kota Sukawi Sutarip yang duduk di kursi depan. Guyonan Pak Menteri> belum berhenti. Dia menyambungnya dengan kisah romantis antara seorang Taufiq Effendi dan istrinya, yang digambarkannya sudah sama-sama tua. "Ya, saya itu sudah tua, 65 tahun, begitu juga istri saya. Kalau tidur gitu suka saya lihat, kok sekarang nenek-nenek ya, padahal biyen ayu banget," kata pria kelahiran Barabai (Kalsel) 12 April 1941, yang lagi-lagi disahut dengan ketawa hadirin, 'Ya sudahlah, sak anane." Tentu saja Meneg PAN tak cuma mengumbar candaan. Guyonan hanyalah pengantar menuju ke persoalan penting yang hendak disampaikannya. Di hadapan para aparatur negara itu, Menteri juga memaparkan konsep reformasi birokrasi. "Intinya, kita harus mengubah pola pikir, dari penguasa ke pelayan rakyat." (Achiar M Permana-29t) | ||||