logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Februari 2006 NASIONAL
Line

Catatan Perjalanan Haji (1)

Lontar Jumrah, Pilih Afdal atau Aman

Pada musim haji tahun 1426 H/2006 M, Suara Merdeka memberangkatkan wartawan Muhammad Ali untuk menunaikan ibadah haji. Berikut catatannya yang diturunkan secara berseri.

SYUKUR, lelaki yang berusia lebih dari 60 tahun itu, menggigil tubuhnya. Suhu badannya meninggi, sementara nafsu makannya menurun. Dia tiduran di bawah tenda beralaskan karpet dan hanya berselimutkan kain sarung. Tampaknya dia kelelahan setelah sehari semalam tak kembali ke tendanya alias tersesat, dan baru kembali setelah diantar oleh seseorang.

Sutrimo yang satu tenda dengannya mendekati dan menanyakan apa yang dia rasakan. Dia mengaku kedinginan. Hal itu terjadi lantaran suhu badannya jauh lebih tinggi ketimbang suhu udara musim dingin di Mina.

Sambil memijit badan Syukur, Sutrimo merayunya untuk makan nasi jatah siang hari itu, yang sejak tadi belum disentuhnya. ''Kita harus makan, kita harus sehat, kita harus menyelesaikan ibadah haji dengan sempurna,'' demikian saran Sutrimo memberikan motivasi.

Syukur mengaku tersesat setalah lepas dari rombongannya saat melontar jumrah aqabah pada tanggal 10 Zulhijjah. Dia tak bisa mengenali lagi di mana tenda yang ditempatinya. Semalaman dia berjalan terus untuk mencarinya, namun tak kunjung menemukan.

Untunglah pagi harinya dia punya pemikiran untuk balik ke tempat jamarat. Di tempat inilah dia bakal ketemu jamaah asal Indonesia yang lain, dan meminta tolong mereka untuk mengantarkannya ke tendanya.

Tersesat memang merupakan kasus yang banyak terjadi pada saat jamaah haji di Mina guna menunaikan ritual melontar jumrah, salah satu rangkaian ibadah haji.

Itulah sebabnya, dalam mengantisipasi banyaknya orang tersesat, Satuan Operasional Arafah-Mina menyebar timnya yang dilengkapi dengan sepeda motor guna mengantar jamaah yang tersesat.

Selain Syukur, dari tenda kloter 51 Solo City (SOC) itu juga terdapat seorang lagi yang tersesat. Dia adalah Asrori yang juga berusia lebih dari 60 tahun. Dia bahkan mengalami dua kali. Tak pelak lagi, Gufron, ketua rombongannya, harus pontang-panting mencarinya.

Namun tak berhasil menemukannya. Mencari seorang di tengah-tengah jutaan manusia memang bagaikan mencari jarum di dalam jerami. Asrori kembali ke tenda, juga setelah diantar oleh seseorang.

Musibah

Melontar jumrah memang merupakan rangkaian ibadah haji yang rawan. Selain tersesat, juga sering terjadi musibah yang menimbulkan korban jiwa. Pada musim haji tahun 2003, ada 14 orang terinjak-injak saat pelaksanaan ritual melontar jumrah. Tak ada jamaah asal Indonesia yang meninggal dalam musibah ini. Sebelumnya pada tahun 2001 ada 35 orang juga meninggal terinjak-injak di tempat itu. Di antara 35 korban itu, terdapat empat orang dari Indonesia. Musibah terjadi sewaktu jamaah akan melontar jumrah aqabah di bagian atas jembatan.

Kemudian kalau kita tengok ke belakang lagi, di sepanjang dasawarsa 1990-an , paling tidak terjadi empat kali musibah Mina dengan korban jiwa amat besar. Tahun 1990, jumlah korban tercatat 1.426 orang, dan 649 di antaranya jamaah dari Indonesia.

Pada waktu itu, tepatnya pada tanggal 2 Juli 1990, terjadi desak-desakan di Terowongan Al-Muaisim ketika sebagian jamaah akan menuju tempat melempar jumrah dan sebagian yang lain akan kembali ke tendanya.

Musibah berikutnya terjadi pada tahun 1994, dengan korban meninggal 240 orang, kemudian pada tahun 1997 dengan korban tewas 343 orang, dan pada tahun 1998 dengan korban tewas 119 orang.

Dan musibah terakhir yang terjadi pada musim haji 2006 ini adalah 362 orang meninggal saat terjadi desak-desakan di tempat jamarat.

Kurangi Risiko

Pemerintah Arab Saudi kini sedang mengembangkan lokasi jamarat, yang akan dibangun menjadi lima tingkat, guna mengurangi risiko-risiko yang terjadi dan memberikan kenyamanan bagi jamaah.

Yang saya rasakan di rombongan kami, melontar jumrah bagaikan perjuangan, yang di samping membutuhkan ketahanan fisik, juga membutuhkan taktik dan strategi. Mana yang kita pentingkan, pilih waktu afdal --yang rawan terjadi desak-desakan-- atau pilih waktu aman? Berangkat sendiri atau secara berombongan?

Rombongan saya pilih waktu aman dengan menghindari waktu afdal, dan berangkat secara berombongan, lengkap dengan atribut-atribut, seperti bendera rombongan, dan selendang yang dikenakan oleh setiap anggota. Atribut-atribut itu ternyata sangat bermanfaat guna menghindari adanya anggota yang terlepas. (29t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA