| Rabu, 15 Februari 2006 | NASIONAL |
Sikapi Kartun Nabi dengan Akal SehatJAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyadari, pemuatan kartun Nabi Muhammad SAW oleh koran Denmark Jyllands-Posten sangat melukai umat Islam. Namun ia minta unjuk rasa mengutuk pemuatan kartun tersebut tetap dilakukan dengan akal sehat. ''Presiden berpendapat gambar kartun itu sangat menyakitkan umat Islam. Tapi beliau mengharapkan agar kita menyikapi soal kartun ini dengan akal dan cara yang sehat, tidak dengan sikap emosi keagamaan, yang kemudian mengekang rasional kita,'' kata Ketua Umum PB HMI Hasanuddin, seusai diterima SBY di Kantor Presiden, Selasa (14/2). Kedatangan Hasanuddin bersama lima Pengurus HMI lainnya untuk melaporkan rencana Kongres HMI ke XXV, 20-25 Feburari 2005 di Makassar. Kepada Pengurus PB HMI, Presiden menyatakan, dirinya pun sangat menyesalkan adanya pemuatan karikatur tersebut. ''Beliau berharap persoalan ini tak lagi dibesar-besarkan. Dalam pengertian, marilah kita menyikapi persolan ini secara lebih cermat dan arif,'' tambah Hasanuddin. Apalagi proses diplomasi antara Pemerintah Indonesia dan Denmark sedang dilakukan dalam rangka membangun kembali relasi kedua negara yang terkoreksi akibat kejadian ini. ''Tentu saja kami menyambut baik imbauan Presiden, untuk menyikapi persoalan ini dengan lebih sehat dan damai. Secara emosional kita memang marah dan jengkel, tetapi pelampiasan harus dilakukan secara sehat dan penuh tanggung jawab,'' tandasnya. Butuh Dikritik Mengenai demo yang masih saja terjadi, Hasanuddin meyakini, Presiden adalah seorang demokrat. Sebagai orang demokrat, Presiden pun butuh dikritik, butuh diberi masukan dan saran. Dengan demikian soal demo-demo yang terjadi, pemerintah tidak akan melakukan tindakan refresif, selama proses aspirasi dan penyampaian pendapat itu dilakukan dengan cara-cara yang tidak melanggar hukum. ''Menurut Presiden, dalam iklim demokrasi salah satu prinsipnya adalah bagaimana kita bermain dalam koridor hukum,'' ujar Hasanuddin. Pada kesempatan itu Presiden antara lain menyampaikan bagaimana pentingnya membangun sebuah paradigma baru dalam pembinaan generasi muda. Menurut dia, kini pemerintah tidak lagi memosisikan mahasiswa, pemuda atau generasi muda sebagai kelompok yang berhadapan-hadapan dengan pemerintah. (A20-48v) |