| Rabu, 15 Februari 2006 | NASIONAL |
40 Hari Tragedi Longsor Banjarnegara (2-Habis)Pengungsi Mulai Merindukan Rumah Sendiri
SETELAH lebih dari 40 hari para pengungsi korban tanah longsor Gunungraja, Desa Sijeruk dan Desa Kendaga, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara tinggal di pengungsian, mereka mulai merindukan kehidupan normal. Saat ini, sebagian dari mereka tinggal di tenda-tenda pengungsi dan sebagian besar lainnya tersebar di rumah-rumah penduduk. Sedikitnya 38 keluarga dari Gunungraja menempati 35 tenda famili yang didirikan di blok Galurrata. Di tempat ini juga tersedia tiga unit MCK yang menyatu dengan dapur umum, air bersih dan juga mushola. Sementara itu, paling sedikit 71 keluarga lainnya menumpang di rumah 39 penduduk Desa Sijeruk lainnya. Jumlah mereka, berdasarkan pendataan sementara yang dilakukan PMI sebanyak 228 jiwa. Sedangkan 64 keluarga lainnya, tersebar di rumah-rumah penduduk Desa Kalilunjar, tetangga Desa Sijeruk yang berjarak satu kilometer. Selebihnya tersebar di Karangbokong, Karangkobar, Banjarmangu, Kesenet, Banjarkulon, dan ada juga yang sampai Kecamatan Sigaluh. Jaraknya dari Sijeruk sudah puluhan kilometer. Selain warga Sijeruk, warga Dusun Melikan dan Gunungraja Kulon, Desa Kendaga juga meninggalkan kampungnya dan mengungsi di rumah saudara serta tetangga di Kendaga Lor, Kendaga Kidul, juga Catrikan. Jumlahnya 49 keluarga yang terdiri dari 177 jiwa. Mereka mengungsi lantaran tanah bukit yang berada di atas kampungnya retak-retak akibat longsoran di Sijeruk. Di antara mereka, masih ada yang minim bantuan. Bahkan saat Suara Merdeka menyalurkan bantuan pembaca, mereka mengaku baru tiga kali menerima bantuan. Pertama bantuan paket sembako dari PMI, kedua bantuan peralatan rumah tangga dari PMI dan ketiga bantuan pembaca Suara Merdeka. ''Mungkin karena jarak tempat kami mengungsi jauh dari Sijeruk, sehingga tidak sering mendapatkan bantuan. Tak hanya itu, kami juga jarang mendengar kabar apa yang akan dilakukan kepada kami ini,'' tutur Miswanto (23) didampingi istrinya Sartinah (19), warga Gunungraja. Selain Miswanto, warga Gunungraja lainnya yang mengungsi di Kendaga di antaranya Jema Nurmanto, Kislam Ahmad Cahyono, Nisem, dan Busheri. Mereka sudah mulai merindukan kehidupan normal, tinggal di rumah sendiri. Saat ditanya soal rumah-rumah pengganti untuk mereka, baik Miswanto maupun yang lain belum banyak tahu. Jika tak pergi ke Sijeruk, mereka buta informasi soal nasibnya. ''Lama-lama kami juga malu dan tak begitu leluasa karena menumpang. Apalagi yang kami tumpangi anaknya kecil-kecil. Ada tiga keluarga yang turut menumpang satu rumah dengan saya,'' kata Ny Busheri. Sementara itu, salah seorang pengungsi yang tinggal di tenda pengungsian mulai merasakan hal yang sama. Meski lebih leluasa karena tidak menumpang, namun mereka tetap berharap pembangunan rumah pengganti untuk mereka segera diwujudkan. Selain itu, waktu enam bulan yang diperlukan untuk pembangunan dinilai oleh pengungsi terlalu lama. ''Jika sudah menempati rumah sendiri kan lebih tenang. Pikiran tenang dan mau bekerja apa saja juga tenang,'' ujar Sarkoni. Terkendala Cuaca Ketua Harian Satlak PBP Banjarnegara Hadi Supeno menuturkan, pekerjaan untuk penyiapan relokasi permanen, termasuk penyediaan rumah-rumah pengganti mendapat kendala cuaca. Hujan masih kerap turun jika sore hari hingga pekerjaan terhenti. Dia mengemukakan, tanah yang telah dibebaskan untuk warga Desa Sijeruk seluas 3,6 ha. Sedangkan untuk warga Desa Kendaga seluas 1,5 ha. Dana yang dibutuhkan untuk membebaskan tanah seluas itu sebesar Rp 1,98 miliar. Rencananya, akan dibangun rumah semi permanen dengan tipe 54 sebanyak 234 rumah. Adapun luas tanah untuk setiap keluarga antara 120 meter persegi hingga 150 meter persegi. Dana untuk membangun perumahan di Desa Sijeruk sebesar Rp 7,4 miliar dan untuk Desa Kendaga Rp 1,96 miliar. Namun, jika ditotal semuanya termasuk pembangunan infrastruktur seperti jalan, air bersih, listrik, sekolah dan tempat ibadah, maka dana yang dibutuhkan membengkak sekitar Rp 16 miliar lebih. Adapun waktu penyiapannya diperkirakan enam bulan. Mengenai keadaan blok Galurrata sebagai tempat relokasi permanen, hal tersebut kata dia, sudah melalui penelitian geologi meski jaraknya tak terlalu jauh dari lokasi bencana. Jaraknya antara 100-200 meter dari Gunungraja dengan relief yang berbukit-bukit. Karenanya diperlukan senderan untuk mencegah tanah tidak bergerak. ''Kami masih kekurangan material bangunan. Di antaranya 567.500 buah genteng, 6 ribu zak semen, 700 kg paku dan material bangunan lainnya. Meski demikian, kami akan terus berusaha melayani warga dengan baik.'' (M Syarif SW-14) | ||||