logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Februari 2006 NASIONAL
Line

Busyro dan Artidjo Siap Berdamai

JAKARTA- Ketua Komisi Yudisial (KY) Busyro Muqoddas pada hari ini (Rabu 15/2) akan melakukan perdamaian atau islah dengan Hakim Agung Artidjo Alkostar sekitar pukul 10 WIB. Hal tersebut dikatakan oleh anggota KY Sukotjo Suparto, Selasa (14/2), di Jakarta, usai menghadiri jumpa pers sosialisi perubahan terhadap perpu KY.

Sukotjo mengatakan, memang benar pada Rabu ini Busyro Muqoddas akan bertemu dengan Artidjo Alkostar untuk berdamai. ''Pertemuan tersebut difasilitasi Todung Mulya Lubis di Wisma BCA Sudirman,'' tandasnya.

Menurutnya, pihaknya menyambut baik terhadap upaya perdamaian tersebut sehingga makin mendekatkan hubungan antara MA dan KY untuk mencari titik temu. ''Selama ini di masyarakat sudah tercipta sebuah suasana yang tidak mengenakan dan seakan-akan MA dan KY sudah benar-benar bermusuhan,'' ujarnya.

Padahal, tambah dia, tidak ada permusuhan antara KY dan MA, sebab semuanya masih berjalan sesuai dengan koridor. ''Tidak ada permusuhan itu. Memangnya kita sedang berperang,'' tandasnya.

Ke depan, kata dia, pihaknya berharap KY dan MA bisa bermitra bersama demi menegakkan dunia peradilan yang jauh dari praktik mafia. ''Ini penting untuk mencapai keadilan bersama di masyarakat,'' ujarnya, seraya menambahkan, selama ini hubungan Busyro Muqoddas dan Bagir Manan berjalan baik.

Sementara itu, di tempat terpisah Ketua Ikatan Hakim Indonesia (Ikahi) Djoko Sarwoko membantah pihaknya berencana membubarkan Komisi Yudisial (KY). Menurutnya, yang ada adalah rencana untuk mengocok ulang KY. ''Saya tidak mengatakan membubarkan KY. Saya hanya mengatakan setelah ada permintaan maaf dan kita bekerja sama, kita kocok ulang KY. Kan boleh to,'' katanya.

Menurutnya, pihaknya tidak pernah mengatakan seperti yang ada di dokumen itu. Apalagi KY itu merupakan lembaga negara. ''Tidak mungkin Ikahi membubarkan lembaga itu,'' ujar Djoko yang juga juru bicara MA itu.

Ide kocok ulang KY, tambah dia, telah lama dilontarkannya. Bahkan sebelum pertemuan Sunter itu diadakan.

Soal kemungkinan ada pemeriksaan atau pemanggilan oleh KY terhadap 8 hakim agung itu, Djoko menyatakan kesiapannya. ''Kami siap diperiksa. Ini lo Pak, saya tidak tahu siapa yang buat (dokumentasi pertemuan Sunter),'' ujarnya.

Kendati demikian, Djoko mengakui pertemuan Sunter itu ada dan dihadiri 8 hakim agung dan beberapa pengacara. Namun Djoko tetap beranggapan, dokumen yang beredar itu palsu.

Karena, menurutnya, pada pertemuan tersebut sama sekali tidak ada yang diperintahkan untuk mencatat materi pertemuan. ''Mungkin itu direkam sama yang buat transkrip. Yang jelas, isinya tidak seperti itu. Transkrip itu yang jelas palsu. Yang salah yang bocorkan itu,'' katanya.

Pertemuan itu, kata dia, bukan sebuah rapat gelap. Jadi, mau dibocorkan atau tidak, tak masalah. ''Cuma, isinya saja yang sensitif itu tak boleh, mestinya. Itu kan mengadu domba,'' ujarnya.

Dalam dokumen itu juga disebutkan ada usulan untuk mengajukan Indrianto Senoadji sebagai saksi ahli. Djoko membenarkan hal itu. ''Itu kan yang akan datang. Kita perlu siapkan saksi,'' kilahnya.

Djoko mengakui, keterlibatan Ikahi dalam pertemuan Sunter itu adalah sebagai inisiatif organisasi profesi ini. ''Ikahi turut memikirkan teman-temannya di organisasi tersebut,'' tandasnya.(aih-48t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA