logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Februari 2006 BANYUMAS
Line

Duka Nasabah dan Karyawan Batramas (1)

Dana BOS Rp 15 Juta pun Ikut Raib

CALON anggota (CA) atau nasabah Batramas bernama Murni, mengaku terus gelisah karena tiap hari dia dikejar-kejar seorang guru yang akan mencairkan dana deposito di Batramas. Guru itu menanamkan uang Rp 15 juta di KSP yang kini dilanda persoalan keuangan itu.

Wajar saja pak guru itu sangat gelisah, karena uang Rp 15 juta itu bukan miliknya, tapi uang tersebut kepunyaan sekolah tempat dia mengajar di SD Paningkaban, Kecamatan Gumelar. ''Itu uang Bantuan Operasional Sekolah (BOS-Red),'' ujarnya.

Murni mengaku, dirinya merasa tidak enak dan kasihan pada guru sekolah dasar itu. Karena sekolah tempat dia mengajar sudah membutuhkan dana BOS yang akan digunakan untuk kegiatan sehari-hari. ''Tapi, saya tidak bisa berbuat apa-apa,'' tuturnya.

Tertangkapnya suami-istri Dian Radite dan Wiwik Wuryani, Senin (13/2), juga belum membuat hatinya tenang. Pasalnya, yang saat ini dibutuhkan nasabah dan karyawan adalah uang yang dihimpun dari masyarakat bisa kembali. ''Kami ingin uang kami kembali dan dia (Dian-Red) juga diproses,'' pintanya.

Lain Murni, lain pula cerita Slamet. Karyawan bagian marketing dari Ajibarang itu mengaku stres berat, karena dikejar-kejar para pedagang di Pasar Ajibarang. ''Nasabah saya kebanyakan pedagang, setiap saya ke pasar untuk menarik tunggakan, saya dikejar-kejar para penabung,'' ungkapnya.

Rogoh Kantong

Suatu hari Slamet mendatangi nasabah untuk menarik dana yang macet. ''Nasabah itu hanya membayar Rp 5.000, setelah saya terima uang itu, pedagang lainnya menagih tabungan pada saya sebesar Rp 20.000. Terpaksa saya merogoh kantong dan membayar tagihan itu. Hari itu saya tekor Rp 15.000,'' paparnya.

Sejak kejadian itu Murni, Sla-met, dan beberapa calon anggota lainnya tidak berani bergerak menarik dana yang macet di nasabah. ''Kami bingung, karena dikejar-kejar nasabah yang akan mencairkan dananya,'' kata yang lain.

Dana yang macet di nasabah, jelas Slamet, sebenarnya masih bisa ditarik, tapi mereka tidak mau membayar kontan. ''Kalau bayarnya dicicil ya kami rugi, karena bensin harganya mahal.''

Karena kebingungan dan mengalami tekanan mental, beberapa karyawan juga sempat dilarikan ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Banyumas untuk mendapat perawatan kejiwaan. Mereka karyawan bagian marketing dari Somagede, Banyumas, dan Tambak.

Mereka yang merasa tertipu oleh kepiawaian Dian Radite dan Wiwik Wuryani jumlahnya mencapai puluhan ribu orang. Nasabahnya ada sekitar 24.000 orang. Karyawannya sekitar 927 orang ditambah 200 calon tenaga baru.

''Yang tertipu tak hanya bernilai puluhan juta,'' jelasnya. (Agus Wahyudi, Khoerudin Islam -36v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA