logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Februari 2006 PANTURA
Line

Demo Antiformalin

500 Warga Makan Ikan Laut

TEGAL - Produksi ikan di Kota Tegal menurun sejak adanya isu penggunaan formalin beberapa waktu lalu. Bahkan, penurunan diketahui mencapai 40 persen dari sebelumnya.

Dalam meningkatkan kembali produksi ikan dari 15.000 nelayan di Kota Tegal, koperasi nelayan KUD Karya Mina, Sabtu (11/2) lalu menggelar demo antiformalin.

Demo itu melibatkan sekitar 500 warga untuk menikmati ikan bebas formalin. Kepala KUD Karya Mina, Mahmud Effendi mengungkapkan, hasil penjualan TPI kepada KUD mengalami penurunan sejak muncul isu formalin. "Semula hasil penjulan mencapai Rp 2 miliar/minggu, sekarang hanya Rp 500 juta/minggu hingga Rp 800 juta/minggu. Kondisi yang kurang menguntungkan dirasakan sejak kenaikan harga BBM. Sekarang ditambah isu formalin serta cuaca buruk, membuat nelayan makin terpuruk," ujarnya.

Demo antiformalin, kata dia, sebagai salah satu upaya memperbaiki kondisi nelayan. "Setidaknya hal ini merupakan langkah awal, dengan harapan masyarakat kembali menaruh kepercayaan kepada nelayan," katanya.

Warga yang diundang dalam demo tersebut, terdiri atas berbagai kalangan mulai eksekutif, buruh, serta nelayan. Wali Kota Adi Winarso SSos tampak hadir dalam acara, didampingi beberapa staf dan dinas terkait. Mereka menyantap makanan ikan tanpa ragu-ragu. Begitu juga dengan sejumlah tamu lain.

Sebelum acara santap berbagai menu ikan itu, nelayan dan bakul ikan menyerukan pernyataan sikap. Perwakilan nelayan H Sumito membacakan pernyataan sikap yang terdiri atas tujuh butir. Di antaranya, nelayan Tegal tidak akan menggunakan formalin, boraks, dan bahan kimia lain pada hasil tangkapan dari laut.

Selain itu, nelayan menyadari penggunaan bahan kimia pengawet tersebut membahayakan kesehatan. "Untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan dari laut, kami hanya menggunakan es batu dan garam," tegasnya.

Karena itu, dia berharap masyarakat tidak khawatir dan ragu-ragu dalam mengonsumsi ikan dan hasil laut lainnya. Nelayan juga berharap pemerintah agar melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan pengusaha, termasuk pengusaha perikanan, tentang bahaya penggunaan formalin, boraks, dan bahan kimia lain yang dicampurkan pada makanan.

"Kami meminta kepada pemerintah untuk melakukan pengawasan atas penggunaan bahan-bahan tersebut agar tidak dijual secara bebas," ucapnya. Harapan lain, lanjut dia, jika setelah sosialisasi ternyata masih ada pihak-pihak yang menggunakan bahan pengawet dengan tujuan memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, supaya diambil tindakan tegas sesuai hukum.

Sementara itu, bakul ikan di Kota Tegal yang jumlahnya mencapai 300 orang, diwakili H Tarjani menyebutkan, untuk mengawetkan ikan hasil pembelian dari TPI, mereka hanya menggunakan es batu dan garam. (lei-61d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA