logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Februari 2006 PANTURA
Line

Perayaan Capgome Meriah

Sebelas Tandu Toa Pe Kong Dikirab

RIBUAN umat Tao Sabtu (11/2) memadati Pelabuhan Kota Tegal. Kedatangan mereka untuk mengikuti acara perayaan Capgome. Warga Kota Tegal juga tampak menyaksikan acara tersebut.

Perayaan yang masih dalam rangkaian perayaan tahun baru Imlek 2557 itu berlangsung meriah. Atraksi barongsai dari Kelenteng Tek Hay Kiong Kota Tegal ikut memeriahkan acara tersebut.

Belum lagi beberapa peserta kirab yang berdandan menyerupai tokoh umat Tao cukup menjadi perhatian warga yang menyaksikan.

Kegiatan diwarnai dengan sembahyang kepada dewa pujaan umat Tao, yakni Tek Hay Cin Jin. Sejumlah umat melakukan sembahyang untuk memohon berkah kepada dewa yang dianggap sebagai panglima para dewa tersebut.

Beberapa sesaji seperti daging ayam serta makanan lain pun terlihat dalam ritual tersebut. Bahkan, air yang telah dicampur dengan bunga yang juga telah disembahyangi menjadi barang rebutan pengunjung karena dipercaya membawa berkah.

Bagi masyarakat Kota Tegal dan sekitarnya, khususnya kaum nelayan, Tek Hay Cin Jin merupakan dewa pelindung.

Oleh karenanya, dewa dengan nama asli Kwee Lak Kwa dijadikan sebagai dewa pujaan utama di Kelenteng Tek Hay Kiong Kota Tegal. Penganut ajaran Tao percaya bagi mereka yang dapat mendekati jiwa kepribadiannya, niscaya mendapat berkah dan keselamatan.

Pada peringatan hari kelima belas Imlek itu, patung dewa Tek Hay Cin Jin digotong bersama-sama dengan sejumlah patung dewa lain, yakni dari Kelenteng Tek Hay Kiong, dan dua lainnya dari kelenteng An Cheng Bio (Indramayu) dan Se Hok Kiong (Semarang).

Memberikan Keberhasilan

Upacara gotong patung dikenal dengan gotong Toa Pe Kong. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan keberkahan pada seluruh masyarakat Kota Tegal pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Sejarah mengenai Kwee Lak Kwa, menurut Wakil Ketua I Kelenteng Tek Hay Kiong, Tan Ming Shan Selasa (31/1), datang ke Kota Tegal melalui Desa Muara Tua pada tahun 1737.

Kwa merupakan perantau dari Tiongkok dengan mengarungi lautan untuk berdagang. Dia melakukan hal itu sejak tahun 1735, dan lebih banyak menyeberangi lautan di Asia Tenggara.

Kwa begitu disegani masyarakat sekitar yang disinggahinya. Karena, kata Ming Shan, Kwa suka bertukar ilmu pengetahuan.

"Kwa bahkan sering mengajarkan mencari ikan bercocok tanam dan mengadakan usaha dagang," ujar dia. Selain itu dia juga membantu perjuangan masyarakat Tionghoa dalam melawan Belanda.

Masyarakat Kota Tegal dan sekitarnya yang sebagian besar nelayan percaya bahwa Kwa bukan hanya seorang saudagar. Namun, lebih dari itu yakni seseorang yang sudah mendapat keabadian atau kedewaan.

Hal itu, lanjut Ming Shan, terbukti dengan kemujikzatan dapat muncul di beberapa tempat secara bersamaan untuk menolong rakyat.

Sehingga, untuk mengenang kebaikan dan rasa persaudaraan Kwee Lak Kwa, masyarakat Kota Tegal mendirikan tempat pemujaan atau rumah abu Cin Jin Bio. Selain itu dibangun pula rumah ibadah Tek Hay Kiong yang dapat diartikan sebagai istana Tek Hay Cin Jin. Rumah ibadah tersebut berlokasi di Jalan Gurami 2-4 Kota Tegal.

Pada upacara sembahyang di pelabuhan kali itu warga juga tampak berebut untuk mendapatkan stempel yang dipercaya sebagai pengesahan atas permohonan yang disampaikan. Dalam stempel tertera nama kebesaran dewa Tek Hay Cin Jin.

Musik khas Cina Toa Ko Chui yang mengiringi atraksi barongsai dan iring-iringan umat Tao itu menjadikan acara lebih dinamis.

Ming San yang juga Ketua Panitia Penyelenggara Perayaan Cap Go Meh, mengatakan perayaan kali ini untuk memohon berkah dan keselamatan.

"Kami memohon kepada Kong Cho atau dewa-dewa untuk mengabulkan permohonan kami," ujar dia di sela-sela perayaan. Umat Tao mempercayai bahwa permohonan yang disampaikan pada hari itu akan terkabul.

Lokasi sembahyang tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Kata Ming San, perayaan kali ini mengembalikan tradisi pada tahun 1950-an. "Pada tahun itu perayaan Toa Pe Kong diselenggarakan di Pelabuhan Tegal. Namun, kemudian penyelenggaraan dipindahkan di objek wisata Pantai Alam Indah (PAI)," tutur dia.

Kesulitan perizinan sempat mengakibatkan perayaan terpaksa dipindahkan ke PAI. Namun, mulai tahun ini perizinan kembali mudah didapatkan.

Upacara gotong Toa Pe Kong dilanjutkan dengan mengirab ke sebelas patung dewa dalam tandu melewati beberapa ruas jalan kota. Rute yang dilalui yakni Jalan Proklamasi-Jalan Udang-Jalan Gurami- Jalan Veteran-Jalan A Yani-Jalan DI Panjaitan. Kirab Toe Pe Kong akan dilanjutkan di sekitar Jalan Gurami hingga malam hari sekitar pukul 22.00.

Filosofi peringatan Cap Go Meh, kata dia, pada malam purnama yakni tanggal 15, Dewa Tian Guan Da Di turun ke dunia untuk membagi berkah kepada umat manusia. "Malaikat diikuti bidadari penabur bunga. Menurut kepercayaan bagi yang kejatuhan bunga segala cita-citanya akan terkabulkan," tutur Ming Shan.

Sedangkan upacara gotong Toa Pe Kong mengandung makna bahwa semua malaikat keluar kelenteng untuk menyambut kedatangan Tian Guan Da Di dan bidadari penabur bunga yang turun ke dunia.(Siti Kholidah-19)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA