logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Februari 2006 WACANA
Line

Kemunafikan pada Antipornografi

Oleh Agus M Irkham

RENCANA penerbitan majalah Playboy versi Indonesia Maret 2006 mendatang mendapat beragam kritik (penolakan). Kritik lebih banyak ditujukan pada akibat keberadaan majalah itu akan semakin memuluskan orang (termasuk mahasiswa, pelajar/ remaja) untuk selalu berpikir ngeres. Lebih jauh lagi, melakukan seks bebas.

Logika kritik di atas dengan sangat mudah dipatahkan, misalnya melalui pertanyaan retoris, "apakah dengan tidak adanya Playboy otomatis free sex akan hilang?

Apakah ada jaminan, jika majalah itu tidak jadi terbit, penyebaran ''virus'' pornografi akan berhenti? Bahkan ada yang menyimpulkan penolakan rencana terbitnya "permainan laki-laki" sebagai sikap munafik.

Antipornografi sama dengan munafik (?). Dalihnya, di satu sisi mereka menentang, tapi di belakang diam-diam menikmatinya. Seks tabu dibicarakan / dilihat (di ruang publik) tapi bebas untuk dilakukan (di wilayah privat, pribadi).

Mendengar tuduhan munafik itu saya jadi teringat kejadian yang saya alami saat berada di Balikpapan, Mei 2005 lalu. Saat itu saya berkesempatan memoderasi sebuah diskusi bertajuk Pornografi dan Pornoaksi di Media.

Malam sebelum acara, bersama seorang teman, saya menelusuri ruko di sepanjang arteri kota Balikpapan mencari media (tabloid/ majalah) porno. Untuk menemukan media tersebut sangat mudah. Hampir setiap pengecer koran pasti mempunyai stok media esek-esek (porno).

Saya heran karena di Semarang media seperti itu dijual secara , sembunyi-sembunyi.

Saya beli satu. Kaget, ketika saya membaca nomor edisinya, tertulis No. 238. Dengan periode terbit mingguan. Berarti tabloid ini telah bertahan lebih dari 4 tahun (terbit mingguan, asumsi 1 tahun 54 minggu). Sebuah prestasi tersendiri. Bagaimana kenyataan itu dapat dijelaskan?

Entah, apakah bisa menjadi bukti awal, betapa kita, soal pornografi masih bersikap plin-plan, mendua (munafik).

Liberalisasi Tubuh

Penting membedah rencana terbitnya Playboy dengan menggunakan pisau bedah ekonomi politik. Analisis ekonomi politik akan mempertemukan antara kepentingan, nilai, dan ideologi dalam sebuah kajian budaya. Analisis ekonomi politik lebih perlu ditekankan mengingat kenyataan bahwa Playboy sebagai ''situs kebudayaan'', selalu berada dalam satu bidang bersama-sama dengan sistem ekonomi, hukum, negara, institusi sosial, media massa, dan dimensi lain dari realitas sosial.

Menjadi sangat sulit, ketika membicarakan soal pornografi dan antipornografi (konteks saat ini : Playboy), tanpa menilik apa yang tengah terjadi di bidang ekonomi dan politik. Analisis ekonomi politik menghindari polemik pornografi, sekadar dilihat dari sisi munafik - tidak munafik. Dipahami semata-mata persoalan etika, yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan ekonomi dan politik.

Dunia di alat modernisasi akhir ini tengah dilanda virus liberalisasi. Semua hendak diliberalkan. Tidak saja komoditi, tapi juga jasa (kesehatan, pendidikan), bahkan melampaui itu, yaitu liberalisasi tubuh. Ada semacam kejenuhan ketika selama ini modernisme akhir (kapitalisme lanjut) hanya didorong oleh komodifikasi barang.

Perlu ide-ide baru: pendidikan, kesehatan, life style, tubuh (seksual) menjadi komoditi yang dapat diarahkan pada surplus ekonomi (libidonomics).

Ketika tubuh diliberalkan, yang sebelumnya telah dideregulasi, maka, logika yang berlaku persis seperti yang diterapkan pada barang (produk). Melekatlah hukum komoditi pada sebentuk tubuh - memperindah penampilan, memperbesar daya rangsang, meningkatkan pelayanan dan stok agar siap untuk setiap permintaan.

Tubuh perempuan di dalam budaya modernisme akhir tidak saja dieksplorasi nilai gunanya - pekerja, protitusi, pelayan, akan tetapi juga nilai tukar (exchange value) - model, gadis peraga, video erotis, majalah porno, film porno, situs porno.

Karena logika tubuh (seks, libido) berhimpit dengan logika komoditi (dibebaskan, sebebas-bebasnya), maka tubuh pun memasuki satu jaringan pasar bebas libido - anonim. Sama halnya dengan komoditi, tubuh menjadi milik semua orang, membentuk jaringan dalam satu orbit seksualitas global.

Perselingkuhan Kuasa

Pemerintah mestinya dapat menjadi jembatan bagi bertemunya antara harapan masyarakat (etik, kualitas, moral, akhlak, realitas, daya hidup) dan kepentingan pemodal (pemilik kuasa ekonomi). Tapi, repotnya pemerintah juga punya kepentingan (investasi, lapangan kerja, stabilitas keamanan, pertumbuhan ekonomi, status quo, masyarakat diam).

Konflik kepentingan inilah yang memaksa kuasa politik yang dimiliki negara ''berselingkuh'' dengan pemilik kuasa ekonomi.

Melarang terbitnya majalah Playboy sama halnya dengan menghentikan (kolonialisasi wacana) arus pasar bebas seksual. Melarang berarti kontra produktif terhadap kepentingan mendapatkan surplus ekonomi. Mengakibatkan arus perputaran keuntungan terhenti.

Dengan demikian, terbitnya majalah majalah itu, kalau memang jadi terbit, merupakan bentuk persetujuan pemerintah atas praktik pasar bebas seksual tersebut.

Karena akan memperlancar siklus, sekaligus memperluas orbit pasar bebas seksual. Melampaui batas-batas usia, gender, status sosial, batas negara. Majalah Playboy (dan media porno lainnya) menjadi instrumen reproduksi ekonomi serta pembiakan kapital.

Buat pemilik kuasa ekonomi (produsen majalah tsb) jelas menguntungkan, lantaran bertambahnya saluran distribusi - volume penjualan meningkat. Buat pemerintah, berupa setoran cash flows dari modal yang berputar di industri pasar bebas seksual. (11)

- Agus M. Irkham, eksponen Komunitas Pasar Buku Indonesia


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA