logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Februari 2006 WACANA
Line

Optimalisasi Akselerasi Pendidikan

Oleh SW Widodo

PENYELENGGARAAN akselerasi pendidikan -untuk selanjutnya disebut akselerasi- hanya sekadar ikut-ikutan. Bukan hanya kontrapoduktif, namun juga dapat merugikan masa depan siswa. Akselerasi bukan saja dapat menimbulkan pro-kontra, namun juga dapat menimbulkan perdebatan tentang bagaimana bentuknya. Hal ini terjadi di negara mana pun, termasuk di Indonesia.

Spanyol dan Denmark melarang akselerasi dalam bentuk apa pun. Rusia tidak melarangnya, namun praktiknya hampir tidak ada. Jerman menyelenggarakan akselerasi berupa diferensiasi pembelajaran di sekolah, setiap tipe sekolah memiliki tujuan berbeda, seperti teknik atau akademik. Setiap siswa sejalan dengan perkembangan diri dan perubahan ketertarikannya dimungkinkan berpindah dari satu tipe sekolah ke tipe sekolah lain. Di banyak sekolah juga diselenggarakan akselerasi bagi siswa potensial untuk mengikuti kompetisi nasional dalam subjek tertentu dengan hadiah yang sangat memadai untuk kelanjutan pendidikan penerimanya.

Cina yang sedang tumbuh pesat, termasuk bidang pendidikannya giat melaksanakan akselerasi, meskipun dalam pandangan peneliti asing berlebihan. Di negeri ini semua jenjang sekolah boleh menerima anak usia berapa pun sepanjang anak tersebut secara akademik mampu memasuki jenjang tersebut.

Bahkan di China ada ketentuan bagi anak-anak berusia dini untuk memasuki dua universitas teknik di negeri tersebut. Di kedua lembaga ini, suatu kursus selama lima tahun diselenggarakan sejak 1978 untuk membantu anak-anak dari seluruh penjuru negeri mengikuti akselerasi. Saat ini, paling sedikit 673 mahasiswa usia dini telah diwisuda sebagai sarjana, yang paling muda berusia 11 tahun. Namun di balik itu, 15% mahasiswa semacam ini menjadi introver dan tak mampu mengungkapkan gagasannya.

Di AS, akselerasi lebih cenderung diartikan sebagai lompat kelas, bisa satu kelas, namun bisa sampai lima kelas. Di Australia dalam suatu eksperimen, lompat kelas hanya diperbolehkan bagi anak ber-IQ 160 atau lebih. Di Inggris, akselerasi dilaksanakan dalam berbagai bentuk. Para orang tua yang anaknya potensial bergabung dalam National Association for Gifted Children. Di Indonesia, penyelenggaraan kelas imersi yang menggunakan pengantar bahasa Inggris untuk subjek tertentu bisa dikategorikan sebagai upaya akselerasi.

Istilah "akselerasi" dipahami dalam berbagai bentuk. Kebanyakan istilah ini dimengerti sebagai lompat kelas, tetapi bagi para ahli pendidikan dapat berarti provisi individual dengan berbagai cara, sehingga siswa lebih cepat belajar. Montgomery mengidentifikasi berbagai bentuk akselerasi: masuk fase pendidikan lebih dini, lompat kelas, bergabung dengan kelas yang lebih tinggi, kelas vertikal siswa berbagai umur, pelajaran ekstra, belajar secara konkuren, misalnya anak SD belajar di SMP, penyelesaian silabus dalam sepertiga waktu yang seharusnya, mengorganisasi belajar sendiri berbeda dengan anak lain di kelas yang sama, belajar melalui mentor, misalnya nara sumber, dan kursus melalui korespondensi.

Beberapa Persyaratan

Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam penyelenggaraan akselerasi supaya dapat optimal, antara lain prasyarat yang harus dipenuhi, identifikasi peserta didik, setting kelas, efek pemberian label, dan evaluasi yang konsisten terhadap berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaannya. Tak kalah penting, harus banyak dikaji hasil penelitian dari penyelengaraan kegiatan semacam yang telah dilakukan di negara lain. Tulisan ini bermaksud memberikan sedikit masukan bagi guru, orang tua dan pemegang otoritas pendidikan dalam penyelenggaraan akselerasi.

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam program akselerasi, antara lain tak ada tekanan dalam penyelenggaraan, diperuntukkan hanya pada siswa yang mampu dan mau, guru dan orang tua mendukung, siswa peserta program memiliki emosi stabil dan memahami partisipasinya.

Akselerasi hanya bisa diperuntukkan bagi siswa yang mampu untuk mengikutinya, yaitu untuk anak-anak ber-IQ tinggi, sangat cerdas, berkemampuan tinggi, berbakat atau apa pun istilahnya yang dalam tulisan ini disebut anak potensial. Sehingga, langkah pertama dalam akselerasi adalah identifikasi siswa potensial.

Ada beberapa cara identifikasi siswa potensial, yaitu melalui tes kecerdasan siswa, identifikasi guru, rekomendasi orang tua dan nominasi teman sebaya.

Pandangan tentang kecerdasan yang diterima luas pada era sekarang adalah cara individu dalam mengorganisasi dan menggunakan pengetahuan, yang bergantung pada lingkungan sosial dan fisik. Konsekuensinya, metode konvensional pengukuran kecerdasan khususnya dengan menggunakan tes yang merefleksikan gagasan kuno tentang kecerdasan sebagai kapasitas melekat yang relatif, diganti dengan pengukuran yang bertujuan membedakan berbagai macam komponen kecerdasan, sehingga menggambarkan profil kemampuan. Kecerdasan bukan lagi hanya kemampuan dalam mata pelajaran tertentu, tetapi juga kreativitas, talenta dan kemampuan praktikal dalam berbagai bidang, termasuk sosial dan bisnis. Perubahan pandangan ini didasarkan pada perkembangan teori kecerdasan itu sendiri, seperti Teori Kecerdasan Ganda oleh Howard Gardner (1983), Teori Empat Domain Kemampuan dari Gagne (1995) dan Teori Trias Kecerdasan dari Sternberg (1997). Kendala utama identifikasi melalui kecerdasan ini adalah, mayoritas sekolah di Indonesia tidak memiliki pengalaman dalam pelaksanaannya.

Menggunakan identifikasi oleh guru sebagai satu-satunya instrumen identifikasi potensial kurang valid karena berbagai sebab. Terjadi bias budaya dari identifikasi oleh guru sebagaimana penelitian Dahme terhadap estimasi siswa potensial oleh guru sekolah menengah. Guru dari AS memperkirakan siswa potensial 6,4%, guru dari Jerman 3,5% dan guru dari Indonesia 17,4%. Para guru lebih cenderung memilih siswa yang paling mendekati ekspektasi-ekspektasi mereka, sehingga mengabaikan karakteristik potensial itu sendiri. Kreativitas jarang sekali dianggap sebagai salah satu aspek berbakat. Para guru sering bertahan pada gambaran mental bahwa siswa potensial adalah siswa yang memiliki penalaran logis sangat baik, pemahaman yang cepat dan keingintahuan intelektual dengan kombinasi peringkat di sekolahnya baik. Dalam hal ini diperlukan bimbingan profesional dari pakar untuk merningkatkan validitas identifikasi oleh guru.

Kelemahan rekomendasi oleh orang tua antara lain terjadinya bias gender. Hal yang aneh namun sungguh terjadi hampir di semua tempat di dunia ini adalah munculnya rasio dua anak laki-laki dari setiap anak wanita dalam rekomendasi anak potensial oleh orang tua (dan kadang-kadang oleh guru). Paling tidak, hal ini terjadi berdasarkan penelitian yang kredibel di tiga negara yaitu AS, Inggris, dan Cina. Alasannya adalah anak laki-laki lebih banyak memiliki problem dalam perilaku sehingga lebih banyak tuntutan.

Hal ini memang sesuai dengan gambaran stereotipe orang tua terhadap anak potensial. Kurangnya validitas dari rekomendasi orang tua juga ditunjukkan oleh penelitian Freeman (Inggris) yang menemukan bahwa sekitar 10% dari anak-anak yang direkomendasikan oleh orang tuanya sebagai potensial ternyata hanya berkemampuan rata-rata dalam tes IQ, dan pencapaiannya di sekolah biasa saja.

Nominasi teman sebaya dapat dilakukan dengan meniru cara yang pernah ditempuh GagnÈ, yaitu meminta kepada semua siswa untuk memilih dan menyusun peringkat empat rekan sekelas yang mereka pikir paling baik dalam kategori-kategori khusus misalnya intelektual, kreativitas, sikap sosial dan fisik. Namun ternyata nominasi semacam ini pun kurang valid dan kebanyakan hasilnya tidak jauh berbeda dari identifikasi oleh guru.

The Children's Palaces di Cina menyelenggarakan cara identifikasi secara unik yaitu berdasar provisi dan ternyata sangat berhasil, terutama untuk siswa sekolah dasar. Identifikasi ini didasarkan pada motivasi dan rasa ketertarikan siswa. Setiap 'istana' merupakan kelas besar dengan ruangan-ruangan yang dipadati dengan aktivitas. Kegiatan pembelajaran dibuat sangat longgar. Banyak anak berlarian di lapangan, bermain, sedangkan lainnya asyik berkaligrafi, bermain wayang, bermain sepeda stasioner, di laboratorium sains, di ruang musik, dsb.

Anak-anak tidak dites kemampuannya, tetapi dirangsang dengan bijaksana dari apa yang mereka temukan untuk dipelajari lebih lanjut. Aturannya sederhana. Siapa saja yang ingin melanjutkan subjek yang telah dipilihnya membuat kontrak berisi jumlah tertentu program kegiatan pembelajaran. Beberapa di antaranya setelah bertahun-tahun, memperoleh hasil yang sangat memuaskan pada bidang tertentu yang dipilihnya. Guru-guru digaji ekstra untuk program ini, dan memberikan komentar mereka sangat menyenangi kegiatan pembelajarannya.

Untuk mengakomodasi pendekatan yang lebih fleksibel dan lebih valid dalam menemukan siswa potensial, sekolah dapat mengembangkan teknik identifikasi sendiri dengan menggabungkan berbagai cara yang memungkinkan. Lebih baik lagi apabila ada keterlibatan yang besar oleh siswa itu sendiri dalam mengidentifikasi seperti yang disarankan banyak ahli pendidikan karena pada hakikatnya diri sendirilah yang memahami potensi dan diri sendirilah yang memutuskan tujuan.

Efek Samping

Dalam penyelenggaran akselerasi harus dibedakan antara streaming dan setting. Streaming berarti kategorisasi siswa pada kemampuannya secara keseluruhan, sedangkan setting berarti kategorisasi yang didasarkan pada assesmen independen dari kemampuan setiap subjek. Para ahli pendidikan berpendapat bahwa dalam akselerasi lebih baik digunakan setting daripada streaming. Secara umum ada dua macam setting akselerasi, yakni di kelas khusus dan di kelas campuran. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kelas khusus (hanya untuk siswa potensial) lebih efektif untuk tujuan akselerasi. Namun kelas khusus ini harus mendapatkan perlakuan berbeda dengan kelas lain, sesuai dengan tujuan akselerasi. Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa akselerasi di kelas khusus ini keberhasilannya lebih nyata untuk segmen kurikulum yang lebih hierarkis dan abstrak, seperti dalam subjek-subjek matematika, ilmu eksakta, dan bahasa asing.

Barangkali ada perbedaan sebagai akibat latar belakang budaya dalam cara siswa bereaksi terhadap pemberian label sebagai 'siswa akselerasi'. Di Kroatia, para siswa merasakan bahwa label yang disandangnya mendatangkan bahaya bagi pengembangan kepribadiannya, dan juga tidak setuju dengan preferensi orang dewasa untuk memasukkan mereka ke kelas akselerasi. Namun bagi para siswa di Amerika yang memasuki program pra-college khusus untuk siswa potensial, rasa percaya dirinya tinggi ketika pembelajaran subjek yang sangat ia kuasai, namun menjadi rendah ketika menjalin hubungan sosial.

Di Inggris, siswa potensial yang diberi label lebih banyak mengalami masalah emosional dan sosial daripada siswa potensial yang tidak diberi label. Siswa yang menyandang label akan mendapatkan tekanan untuk menggapai sesuatu sesuai labelnya. Bahkan sepuluh tahun kemudian, siswa potensial yang diberi label merasa kehidupannya tidak berbahagia dan menyalahkan label yang disandangnya sebagai biang keladi. Masalah di masa dewasa dari anak potensial akan bertambah parah bagi yang tidak berhasil memenuhi ekspektasi dan ambisi orang tuanya.

Sebagai akibat dari memiliki anak potensial, orang tua dengan sendirinya juga memiliki masalah emosional karena merasa dirinya tidak memadai dalam mengembangkan potensi anaknya atau mencoba memperoleh keuntungan sosial dari kondisi anaknya.

Berpijak pada berbagai temuan di atas, banyak yang akhirnya meragukan prospek outcome akademik jangka panjang dari akselerasi. Sebagai contoh, suatu studi sepuluh tahun membandingkan siswa akselerasi dan non akselerasi, bahkan oleh para peneliti pro akselerasi Amerika, Swiatek dan Benbow, menemukan bahwa pada usia 23 "sedikit perbedaan signifikan yang ditemukan antara dua kelompok dalam hal variabel akademik dan psiko-sosial". Efek yang sangat meyakinkan tampaknya hanyalah pada saat akselerasi itu sendiri.

Penelitian oleh Goertzel terhadap 317 pesohor menemukan bahwa dua pertiga dari mereka tidak menunjukkan potensinya ketika masa sekolahnya. Demikian juga hasil studi kasus Howard Gardner terhadap 11 tokoh pengubah dunia, hanya Picasso yang pada usia 20 sudah menunjukkan tanda-tanda ketokohannya di masa depan. West meneliti kehidupan sepuluh pemikir visual tersohor, termasuk Einstein, Edison dan Churchill, yang semuanya bukannya hasil akselerasi, melainkan di sekolah justru dianggap siswa yang 'pencapaiannya kurang'.

Hal ini berarti, akselerasi hanya memiliki efek terhadap masa depan apabila dilaksanakan dengan bijak dan fokus pada subjek yang sesuai dengan bakat siswa. Penyelenggaraannya harus dievaluasi secara kontinyu, konsisten dan independen. Bila tidak demikian, yang muncul justru efek sampingnya. (24)

-SW Widodo, Widyaiswara LPMP Jawa Tengah.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA