logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Februari 2006 WACANA
Line

tajuk rencana

Awas, Para Penipu Bergentayangan

-- Kasus-kasus penipuan begitu sering diberitakan media massa. Dari yang menggunakan cara sederhana hingga yang canggih didukung perangkat teknologi. Meski demikian, tindak kejahatan itu terus terjadi dan memakan korban. Bahkan, muncul kesan para pelakunya makin nekat dan pintar. Tujuan pemuatan atau penayangan berita-berita kasus penipuan sebagai peringatan agar masyarakat waspada, bisa dikatakan tak tercapai. Hingga kini kita masih membaca, mendengar, atau menyaksikan korban-korban berbagai jenis penipuan berjatuhan. Pertanyaannya, kenapa tindak kejahatan itu selalu berulang, bahkan pada kasus-kasus yang menggunakan cara sama, misalnya pemberitahuan memenangi suatu hadiah lewat pesan pendek (SMS).

-- Berkali-kali diberitakan kasus penipuan memanfaatkan salah satu layanan teknologi komunikasi itu. Namun, selalu muncul korban berikut yang dirugikan jutaan rupiah. Pelaku penipuan melalui SMS pintar mempermainkan situasi psikologis korbannya. Begitu SMS yang dikirim secara acak dan asal-asalan memperoleh respons, penipu akan segera menggiring korban ke dalam perangkapnya. Biasanya korban merasa surprise karena diberitahu mendapat suatu hadiah bernilai besar, contohnya mobil atau uang. Dalam kondisi terdesak karena sengaja dipojokkan dan tidak memiliki pilihan lain, korban pun tak sadar telah disetir penipu. Termasuk ketika diminta mentransfer uang atau tanpa sadar uangnya dirampas melalui ATM.

-- Penerimaan CPNS yang diadakan serentak oleh pemerintah daerah saat ini juga tak lepas dari incaran penipu. Ada yang mengaku bisa menjamin seorang pelamar menjadi CPNS asal membayar uang dalam jumlah tertentu. Padahal, kemungkinan pelaku tindak kriminal tersebut hanya berspekulasi. Bila korbannya dapat melewati tahap-tahap seleksi dan diterima maka si penipu memperoleh uang tanpa melakukan apa pun. Sebaliknya, jika gagal dia tinggal mengembalikan uangnya. Persoalannya, korban penipuan terus berjatuhan walaupun sudah diingatkan jangan percaya calo atau yang mengaku bisa menjamin lolos seleksi. Barangkali persaingan ketat dan keinginan kuat menjadikan seseorang tak rasional.

-- Kasus terakhir yang masih menjadi pembicaraan hangat adalah penipuan berkedok koperasi di Banyumas. Ratusan nasabah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Bakti Praja Banyumas (Batramas) terancam kehilangan uang yang telah disetor sebagai modal atau tabungan. Direktur utama koperasi tersebut kabur tak ketahuan rimbanya. Berkali-kali berjanji baik lewat telepon maupun faksimile untuk menyelesaikan persoalan tetapi selalu ingkar. Para pegawai koperasi yang memiliki 17 kantor cabang di 27 kecamatan itu pun ikut bingung dan merasa menjadi korban. Kemelut muncul ketika awal Januari lalu upaya para nasabah untuk mencairkan dana termasuk bunga sulit dipenuhi kantor pusat di Jalan Ringin Tirto, Purwokerto Utara tersebut.

-- Jumlah nasabah atau diistilahkan sebagai calon anggota koperasi itu sekitar 23.000. Dana masyarakat yang dihimpun ada yang berbentuk simpanan reguler, ada pula yang berjenjang. Reguler bisa harian dan mingguan dengan jumlah setoran bervariasi dari Rp 5.000 hingga ratusan ribu rupiah. Simpanan berjenjang biasanya berbentuk deposito 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, atau 12 bulan dengan dana mulai Rp 1 juta hingga ratusan juta. Penanam modal atau penabungnya bukan hanya warga biasa melainkan juga pejabat, mantan pejabat, dan mantan wakil rakyat. Diperkirakan, dana yang terhimpun miliaran rupiah. Koperasi itu terlilit masalah akibat kredit macet, dana masyarakat dialihkan ke sektor lain, serta penyalahgunaan dana oleh oknum tertentu.

-- Sudah banyak terjadi kasus penipuan berkedok koperasi. Mungkin pada mulanya dilandasi niat baik. Namun seiring dengan perjalanan waktu, bisa saja ada salah satu atau beberapa pengelola yang tergoda untuk menyelewengkan uang yang semestinya dimanfaatkan untuk menyejahterakan anggota. Bisa pula sejak awal disistematisasi sebagai penipuan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Biasanya untuk memikat calon anggota atau nasabah ditawari iming-iming bunga yang sangat tinggi. Jika warga mau waspada dan berpikir agak rasional, model-model penipuan semacam itu dapat tercium dari awal. Masalahnya, dalam kondisi perekonomian yang sulit seperti sekarang, siapa yang tak tertarik pada iming-iming?


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA