| Senin, 13 Februari 2006 | MURIA |
Harga Fosil Hanya Sebesar ''Tukon Rokok''SUNGGUH mengenaskan nasib fosil purba yang ditemukan di lereng pegunungan Patiayam, tepatnya di Dukuh Kancilan, Karangsuda dan Ketileng, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, saat ini. Sejumlah penelitian yang dilakukan para ahli secara terbuka telah menyatakan tulang-belulang yang dapat dijumpai dengan mudah pada setiap rekahan tanah tandus di tempat tersebut mampu ''menyaingi'' fosil serupa di Sangiran (Sragen). Sayangnya, pengelolaannya sejauh ini masih berjalan di tempat. Menurut penuturan seksi penemuan pada paguyuban pelestari Situs Patiayam, Kliwon, dari sekitar sepuluh karung fosil tulang -diduga binatang purba yang ditemukan warga- sebagian besar di antaranya telah mulai rusak atau bahkan hilang begitu saja. Menurut warga yang telah puluhan kali menemukan balung buta tersebut, hal itu terjadi karena tak ada tempat penampungan untuk benda-benda tersebut. ''Pemerintah dari dulu menjanjikan akan membangun sebuah gudang penyimpanan. Kenyataannya sampai hari ini juga belum direalisasikan,'' keluhnya. Sebenarnya, sekitar lima atau enam tahun lalu, tawaran dari sejumlah pihak untuk mencari fosil purba di desanya sudah banyak didengarnya. Bahkan dirinya mengaku -sebelum akhirnya Pemkab Kudus menyatakan akan mengelola kawasan Patiayam sebagai museum situs- pernah menerima order itu. ''Satu karung tulang saya berikan kepada orang yang mengaku dari Semarang. Imbalannya hanya sebesar tukon rokok karena seperti warga yang lain, saya juga tak tahu bahwa tulang-tulang tersebut bernilai sejarah tinggi,'' akunya. Sampai kini, tandasnya, temuan demi temuan juga masih dialami warga, meski mereka bingung ke mana harus menempatkan benda-benda tersebut. Bagian Sejarah, Museum dan Purbakala pada Disparbud Kudus Sancaka DS menuturkan, setidaknya ada 28 orang yang telah menemukan fosil-fosil tersebut yang terletak di dua dukuh. Sebelumnya, diperkirakan fosil hanya bisa ditemukan di Petak 21 Pegunungan Patiayam seluas 21 hektare di Dukuh Karangsuda. Kenyataannya, beberapa hari yang lalu juga ditemukan fosil baru di Petak Kebo Mati, di Dukuh Ketileng. ''Jarak dua dukuh tersebut mencapai dua kilometer,'' jelasnya. Meningat hingga sekarang belum ada upaya untuk membangun gudang penyimpanan sementara, sejumlah warga pun punya niat mewujudkan gudang tersebut. Meski ''ruang pamer'' itu hanya beralas tanah dengan etalase ala kadarnya, menurut mereka, hal itu jauh lebih baik daripada menunggu realisasi janji Pemkab. ''Nanti kalau tidak dikumpulkan di satu tempat, kami takut barang temuan itu hilang atau rusak,'' kata Musthofa yang menjadikan salah satu ruangan rumahnya sebagai tempat penyimpanan fosil sementara. (Anton Wahyu Hartono-50n) |