| Senin, 13 Februari 2006 | SEMARANG |
Junkies Melawan HIV/AIDS (1)Pernah Bakar Diri dan Lumpuh SeparoSERUAN untuk menjauhi narkoba sudah beribu bahkan beratus ribu kali disampaikan pemerintah, aktivis LSM, ataupun para mantan pengguna. Kenikmatan sesaat yang diperoleh tak sebanding dengan kerusakan permanen yang harus dipikul seumur hidup. Namun, fakta tersebut tidak serta-merta membuat para junkies meninggalkan kebiasaan buruk mereka. Jika hal itu tidak ditangani serius, bukan mustahil masa depan bangsa akan hancur mengingat pengguna terbesar narkoba adalah kawula muda. Memang untuk melepaskan diri dari jeratan narkoba bukanlah hal yang mudah bagi junkies. Deden (25) dan Sammy (26), penghuni Rumah Damai di Kelurahan Cepoko, Kecamatan Gunungpati, adalah contoh saksi hidup yang berjuang keras melawan ketergantungan itu walau tubuh mereka sudah terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif. Seakan diberi kesempatan kedua oleh Yang Mahakuasa, keduanya memantapkan hati untuk tidak lagi menyia-nyiakan masa muda. Deden dan Sammy pun semakin dekat dengan Tuhan. Pada saat masih akrab dengan sabu-sabu dan putau, mungkin tak terbersit di benak mereka untuk pergi ke gereja, mendengarkan khotbah pendeta, dan membaca Alkitab secara rutin. Namun saat ini, hal itu menjadi santapan mereka sehari-hari. Pada 1998 adalah awal perkenalan Deden dengan alkohol. Lama-kelamaan kenikmatan alkohol tidak lagi dia rasakan. Lantas, pria asal Yogya itu mencoba pil koplo, ganja, kemudian meningkat ke sabu-sabu dan putau. Sammy yang asal Jakarta mengaku mengenal ganja sejak masih SMP (1993). Pada saat menimba ilmu di SMA, dia pun akrab dengan putau. Bunuh Diri Jalan berliku harus mereka tempuh sebelum akhirnya memutuskan masuk ke Rumah Damai. Saat masih mengonsumsi putau, Deden mengaku putus asa. Dia pun mencoba bunuh diri karena merasa hidupnya tak lagi berguna. Suatu pagi pada 2003, saat semua anggota keluarganya sedang sarapan bersama, dia nekat menyiramkan minyak tanah ke sekujur tubuh dan membakar diri. ''Saat itu saya minta maaf pada keluarga karena telah menyusahkan mereka,'' ucap pemuda yang pernah lumpuh sebelah akibat luka bakar yang dideritanya. Sammy mengaku ''setengah dipaksa'' saat masuk Rumah Damai pada 1999. Setahun setelah dirawat di sana, dia pun kembali ke kota asalnya. Tak kuasa menahan godaan narkoba, lembaran hitam dalam hidup Sammy kembali terulang. Godaan itu ternyata harus dia bayar mahal. Selama 43 hari, dia terpaksa dirawat di rumah sakit. Keputusan untuk masuk Rumah Damai juga bukanlah hal yang mudah bagi Deden. Pada awalnya, dia menolak masuk rumah pemulihan itu. Namun, setelah melihat salah seorang kerabatnya dapat melepaskan diri dari jerat barang haram itu dalam pemulihan di Rumah Damai, Deden pun bergabung pada 2004. Optimistis Meskipun konseling sudah dilakukan sebelum menjalani tes HIV, Deden tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mengetahui virus itu bersarang di tubuhnya. Materi konseling yang diberikan seolah-olah lenyap. Akan tetapi lambat laun, rasa percaya diri Deden pulih. Kawan-kawan Deden yang juga terinfeksi virus itu ternyata masih dapat hidup normal seperti kebanyakan orang. Di mata Deden, mereka menjadi semakin dekat dengan Tuhan. Dia pun optimistis, dapat memiliki pacar, menikahinya, dan punya anak serta membangun keluarga bahagia. Sammy ketahuan mengidap HIV positif saat dirawat di rumah sakit. Saat mengetahuinya, dia pun tidak terima. Berhari-hari dia hanya bisa terdiam dan menolak berbicara termasuk pada kedua orang tuanya. Butuh satu bulan bagi Sammy untuk menerima kenyataan itu. Dia dan Deden bertekad akan terus melawan penyakit tersebut. ''Pekerjaan rumah lain yang harus kami lakukan adalah mengurangi stigma di masyarakat pada ODHA (orang dengan HIV/AIDS-Red),'' kata keduanya. (Ida N-44j) |