| Jumat, 10 Februari 2006 | SALA |
Berkat Permen, Proses Imigrasi LancarHANYA dengan satu pak permen, pemeriksaan imigrasi jamaah haji Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Aisyiyah, Solo, lancar. Bahkan askar (petugas keamanan Arab Saudi) dan imigrasi tak memeriksa sama sekali koper, tas, dan segala barang bawaan mereka. Calon haji sebaiknya memang memiliki pengetahuan tentang cara beribadah dengan aman, trik menghindari askar dan pemeriksaan di bandara, serta syariat ritual haji. "Kami memperoleh hal itu setelah bergabung dengan KBIH. Sebab, selain tuntunan dari Departemen Agama, masih banyak yang harus diketahui calon haji," kata Anik, anggota KBIH Aisyiyah. Misalnya, bagaimana menghindari pemeriksaan berbelit-belit di Bandara King Abdul Aziz atau saat hendak pulang ke Indonesia. "Semula kami mengira seperti pemeriksaan di imigrasi dalam perjalanan ke luar negeri. Ternyata pembimbing di KBIH menyatakan cukup dengan permen, pemeriksaan pun lancar," kata dia di sela-sela silaturahmi jamaah haji, kemarin. Pembimbing yang berpengalaman memberikan pengetahuan yang berkait dengan kehidupan sehari-hari di Tanah Suci secara mendetail. "Mula-mula kami tak percaya. Mana mungkin hanya dengan permen semua urusan di bandara beres. Namun begitu kami lakukan ternyata benar-benar lancar," kata Hj Umi Hamidah, anggota lain. Tanpa Memeriksa Rupanya para petugas bandara dan askar sangat menggemari permen dari Indonesia. Tak ayal, menghadapi pemeriksaan setiap peserta haji menyiapkan permen. Ada yang menyodorkan satu bungkus, ada pula satu pak berisi 10 buah permen. Walhasil, petugas bandara pun menyuruh mereka langsung membawa tas dan bawaan, tanpa memeriksa. "Ada yang menyarankan pakaian dalam diletakkan di bagian paling atas. Jadi begitu dibuka, petugas langsung melihat pakaian itu. Namun cara itu kalah mujarab dibandingkan dengan pemberian permen ke petugas," ujar istri Kepala Kejaksaan Negeri Pekalongan itu. Sementara itu, KBIH Aisyiyah memaklumi jika ada sorotan negatif terhadap kelompok bimbingan ibadah haji. Sebab, terkadang memang ada yang keterlaluan dan mementingkan kelompok. "Namun kami menjaga silaturahmi dengan sesama anggota kloter. Kami juga menuruti peraturan ketua kloter. Jika berkait dengan urusan bimbingan ibadah, kami melakukan lebih intensif," kata Hj Jumtari, salah seorang pembimbing. Dia menuturkan berhaji melalui KBIH tetap baik, sepanjang niat sejak awal memperdalam pengetahuan mengenai tata cara berhaji sesuai dengan syariat Nabi Muhammad SAW. "Kami mendapatkan pengetahuan lebih mendalam sebagai tambahan terhadap tuntunan dari Departemen Agama. Terutama, soal kehidupan sehari-hari di Tanah Suci dan saat beribadah," kata Hj Nurlatifah. Soal biaya? "Itu relatif. Yang penting kami tak terbebani dan semua dilaksanakan dengan ikhlas, terbuka, dan tak ditutup-tutupi." (Joko Dwi Hastanto-53) |