logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 10 Februari 2006 PANTURA
Line

TKI Asal Batang Meninggal di Korsel

BATANG - Suharto (46), penduduk Kambung Kebonan, Kelurahan Proyonanggan Utara, Kecamatan Batang, dikabarkan telah meninggal dunia di Seoul, Korea Selatan.

Berita kematian itu diterima keluarganya, Sukimin, Selasa (7/2) lalu dari rekan kerja Suharto di Negeri Ginseng tersebut. "Kabar duka itu saya terima dari Iwan, rekan sekerja adik saya di Seoul," kata Sukimin, Kamis (9/2).

"Semula berita itu saya redam dulu, sambil memikirkan bagaimana menyampaikannya ke pihak keluarga, agar mereka tidak terkejut. Tetapi, orang rumah ternyata sudah geger, karena ditelepon dari Korea Selatan," ujar kakak Suharto itu, saat ditemui di rumah duka di Jl Yos Sudarso, Gang Progo.

Dia menuturkan, adiknya berangkat ke Korsel sekitar bulan Juni tahun 2002. Semula dia bekerja di perusahaan otomotif. Setelah kontrak habis, dia pindah ke perusahaan elektronika.

Selama ini adiknya selalu rutin berkomunikasi, baik dengan istrinya, Winarsih (karyawan Bagian Sosial Pemerintah Kabupaten Batang) maupun dengan kedua anaknya, Prita Amalia (19) - mahasiswi Fakultas Hubungan Internasional (HI) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta - dan Prisa Teguh Wiharto (15), pelajar SMPN 3. Dia juga berkomunikasi dengan keluarga yang lain.

"Bahkan, pada Senin malam dia masih telepon istrinya. Dia mengabarkan, sekarang di Seoul sedang musim salju," ujar Kepala Kelurahan Proyonanggan Selatan itu, yang akrab disapa "Mayor".

Hidung Berdarah

Menurutnya, berdasarkan keterangan Iwan, adiknya pada Selasa lalu masih masuk kerja seperti biasa, pukul 08.00 waktu setempat. Sekitar pukul 10.00, saat istirahat, dia meninggalkan ruangan yang saat itu ramai oleh pekerja dari Indonesia.

Suharto merasa kedinginan dan masuk ruang pemanas. Masih menurut Iwan, Suharto kemudian duduk di kursi sambil merokok. Ketika seorang pekerja dari Indonesia masuk ruangan itu, dia melihat rokok sudah jatuh di lantai. Tangan kanan korban menggantung.

Ketika dipegang, Suharto sudah tidak sadar. Oleh petugas medis, dia dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun jiwanya, tidak tertolong. "Pembuluh darah adik saya diduga pecah. Menurut Iwan, saat dia dibawa ke rumah sakit, dari lubang hidung dan telinganya keluar darah," kata Sukimin.

Berita kematian itu kemudian dilaporkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul. Selanjutnya, seorang staf kedubes bernama Irwan bersama aparat kepolisian setempat melakukan visum.

Irwan kemudian menghubungi keluarga Suharto di Batang, yang telah mendapatkan berita lebih dulu dari Iwan. Semua urusan langsung diambil alih oleh KBRI bersama perusahaan tempat Suharto bekerja.

Sampai Minggu

Diperoleh keterangan, jenazah Suharto akan diberangkatkan pulang ke Tanah Air dari Seoul dengan pesawat KAL penerbangan pertama, Sabtu (11/2), langsung ke Jakarta.

Diperkirakan, jenazah dari Jakarta sampai di Batang pada Minggu (12/2) pagi. "Kami mengucapkan terimakasih pada KBRI, yang setiap saat selalu berkomunikasi dengan kami," ujar Sukimin.

Mengenai rencana untuk pemeriksaan jenazah lebih lanjut, untuk sementara ini belum dia pikirkan. Sebab, keterangan Iwan, Irwan dan teman-teman sekerja Suharto menunjukkan, adiknya meninggal karena sakit.

"Dari keterangan teman-teman maupun KBRI, adik saya meninggal karena sakit. Alasan itu bisa diterima keluarga. Tapi, perkembangan selanjutnya nanti kita lihat setelah jenazah adik saya tiba di Batang."

Sejak berita kematian diterima, pada Rabu malam diadakan bacaan Surat Yasin dan tahlil. Sementara itu, tamu silih datang bergantian untuk menyatakan belangsungkawa.(ar-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA