logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 10 Februari 2006 PANTURA
Line

Sambut Malam 10 Syura di Kabupaten Tegal

Ribuan Orang Berdoa di Pondok Pesantren

MENYAMBUT malam 10 Syura, suasana Kabupaten Tegal begitu khusyuk. Kota Slawi tampak lebih tenang dan lengang, lantaran ribuan warganya mendatangi tempat-tempat keramat, antara lain, makam Ki Gede Sebayu di Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang, dan makam Pangeran Purbaya di Kecamatan Dukuhawaru.

Jalan selebar tiga meter di dekat makam pendiri Kabupaten Tegal, Ki Gede Sebayu, separonya digunakan untuk parkir kendaraan roda empat dan roda dua, serta tempat berjualan ratusan pedagang makanan kecil dan minuman tradisional, seperti bajigur, wedang jahe, dan teh poci.

Ribuan orang berkumpul di dalam makam dan meluber hingga ke jalan desa sepanjang tiga kilometer lebih. Mereka duduk lesehan beralaskan tikar dan koran bekas.

Tepat pukul 00.00, terdengar doa 10 Syura. "Khasbiyallah wani'mal wakiil, ni'mal maula wani'mal nashiir". Demikian bunyi doa itu, yang diucapkan sebanyak 70 kali.

Suasana serupa terlihat di sejumlah pondok pesantren (ponpes). Antara lain, Ponpes Attauhiddiyah di Dukuh Giren, Desa Kaligayam, Kecamatan Talang, dan di Desa Cikura, Kecamatan Bojong. Ribuan warga nahdliyin tumpah ke sana.

Desa Cikura, yang terletak di kaki Gunung Slamet berketinggian 1.130 meter di atas permukaan air laut (dpl), paling banyak didatangi pengunjung. Mereka datang dari daerah sekitar, seperti Kota Tegal, Bumiayu, Pemalang, dan Purwokerto.

Lebih Banyak

Doa dipimpin langsung oleh pengasuh dan pimpinan ponpes, KH Ahmad Saidi bin Kiai Said. Menurut Ustad Tapsir, pengurus senior di ponpes tersebut, sejak menjelang shalat Maghrib hingga selesai shalat Isya, jalan menuju ponpes sudah dipadati pengunjung.

Jumlah pengunjung, menurut dia, jauh lebih banyak dibandingkan saat digelar pengajian tiap malam Jumat Kliwon. Ribuan orang terjebak dalam kemacetan. Mereka yang berhasil masuk ke halaman ponpes seluas lebih dari 15 ha itu duduk lesehan.

Kendati gerimis, pengunjung tetap khusyuk berdoa. Sejak pukul 20.00, KH Ahmad Saidi bin Kiai Said memimpin doa dan membaca ayat-ayat suci Alquran. Puncak kekhusyukan dirasakan pada pukul 00.30, setelah pembacaan doa khusus.

Massa berdoa sambil menangis. Mereka meminta ampun, keselamatan, dan agar diberi rezeki yang barokah.

Para pengunjung mulai pulang ke rumah masing-masing sekitar pukul 02.00 Kamis dini hari. Jalan desa kembali macet.(Riyono Toepra-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA