| Jumat, 10 Februari 2006 | NASIONAL |
Pembunuhan di MajenangTersangka Kalut karena Istri Minta CeraiCILACAP - Kondisi Imam Mansyur (40), tersangka pembunuh istri sendiri bernama Dwi Haryati (38), sampai Kamis (9/2) masih lemah. Dia terlalu banyak kehilangan darah karena berusaha bunuh diri dengan cara memotong pembuluh darah di pergelangan tangannya dengan golok, Rabu (8/2). Tersangka juga banyak mengeluarkan darah dari bagian perutnya. Sebab, selain memotong pembuluh darah di pergelangan, dia juga merobek bagian perutnya dengan golok yang sama. Perbuatan nekat tersebut dilakukan setelah tersangka menghabisi nyawa istrinya. Perbuatan tersebut dilakukan di rumah kontrakan, di Dusun Bangunsari, Desa Pahonjean, Kecamatan Majenang, Cilacap. Tepatnya di sebelah timur Madarasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Pahonjean. Sampai saat ini tersangka masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majenang. Menurut petugas RSUD itu, untuk mengganti darah yang keluar dari tubuh Imam Mansyur dibutuhkan sekitar tiga kantong darah. Namun pihak rumah sakit belum bisa melakukan transfusi darah ke tubuh Imam Mansyur, karena sampai Kamis (9/2) belum ada keluarganya yang datang. Pihak RSUD Majenang mengaku tidak memiliki persediaan darah. Untuk itu, pihak keluarga Imam sendiri yang harus menyediakan darah yang dibutuhkan. Menurut Ny Muchsin, warga Pahonjean, pasangan suami istri Imam Mansyur dan Dwi Haryati sudah dikaruniai tiga anak. Anak pertama duduk di kelas IV SD, anak kedua kelas I SD, dan anak ketiga baru berumur satu setengah tahun. "Tapi maaf, saya tidak hafal nama ketiga anak tersebut. Sebab, mereka lebih sering tinggal di rumah kakeknya, orang tua Dwi Haryati, di Desa Madura, Kecamatan Wanareja," kata Ny Muchsin. Keterangan yang dihimpun Suara Merdeka Kamis (9/2) menyebutkan, kehidupan rumah tangga itu sudah lama tidak harmonis. Bahkan sekitar dua bulan lalu, mereka pernah hidup berpisah. Korban Dwi Haryati pulang ke rumah orang tuanya di Desa Madura, Kecamatan Wanareja. Ketiga anaknya ikut dibawa ke Madura; sedangkan Imam Mansyur tetap tinggal di rumah kontrakan. Meski tinggal bersama orang tua di Madura, Dwi Haryati bersama anaknya yang pertama dan kedua setiap pagi tetap berangkat ke Majenang. Sebab, korban pembunuhan itu harus mengajar di SMK Diponegoro, dan kedua anaknya masih sekolah di Majenang. Korban Dwi Haryati sudah beberapa kali minta cerai kepada suaminya, namun Imam Mansyur tidak memenuhi permintaan itu, dan bahkan ia mengajak untuk meneruskan kehidupan rumah tangganya. Hanya saja, korban menolak dan tetap menuntut cerai. Diduga, tersangka nekat membunuh istrinya karena kalut. Sebab, istrinya selalu mendesak minta dicerai. Suatu saat, ketika suami istri itu bertengkar, Imam Mansyur pernah mengeluarkan kata-kata: "Daripada cerai, lebih baik kita mati bersama." Kapolres Cilacap, AKBP Drs Erwin Triwanto, ketika dihubungi melalui Kasat Reskrim, Iptu Didi Novi Rahmanto, mengatakan, kasus pembunuhan itu dilatarbelakangi oleh konflik rumah tangga. Kehidupan rumah tangga suami istri itu sudah lama tidak harmonis lagi.(ag-29a) |