| Jumat, 10 Februari 2006 | NASIONAL |
Kaum Syiah Jateng Kenang Tragedi Karbala di PRPP"Ya Husainku/ kekasih Zahra/ putra nabiku/ tubuh Al-Husain kini tergeletak/ jatuh terjerembab di tanah Karbala/ musuh menertawakan terbahak-bahak/ Ya Husainku, kekasih Zahra/ putra nabiku/ menyaksikan darah suci/ pembantaian keluarga nabi." MUHAMMAD Qummy Baugbah (19) menepuk-nepukkan telapak tangan kanannya ke dada sebelah kiri. Dia tersedu, meratapi kematian Sayidina Husain, tokoh yang amat dia cintai. Suara Habib Muhammad Zein yang menyayat-nyayat, melagukan maktam (narasi) Peristiwa Karbala dari atas panggung, membuat sedu-sedannya makin terdengar keras. Baugbah tidak sendirian. Sekitar seribu orang penganut Syiah lainnya juga melakukan hal serupa. Bertempat di Balai Sindoro, kompleks PRPP Tawangmas, Semarang, Kamis (9/2) siang, mereka melakukan peringatan Asyura, tragedi kematian Husain di Padang Karbala pada tahun 61 Hijriah. Kala itu terjadi pertempuran heroik antara pasukan yang dia pimpin melawan tentara Muawiyyah dan Panglima Yazid. Ya, siang itu Balai Sindoro bagai menjelma Padang Karbala. Kendati baru dimulai selepas zuhur, pagi-pagi umat yang berasal dari berbagai penjuru kota di Jawa Tengah itu telah berdatangan. Ada yang perseorangan, namun banyak pula yang datang secara berombongan. Mereka hampir semuanya mengenakan pakaian serba hitam, sebagai simbol perkabungan. Kaum perempuan berjilbab rapat, sedangkan yang laki-laki berbaju koko, kaus dan kemeja. Sebagian di antara kaus yang mereka kenakan berhiaskan gambar Sayidina Husain dan puji-pujian terhadapnya. Baugbah misalnya, siang itu mengenakan kaus hitam lengan panjang. Pada bagian belakang terdapat gambar wajah sang cucu Rasulullah itu, lengkap dengan tulisan Arab berleleran darah "Kullu yaumin Asyura, wa kullu ardhin Karbala" (Setiap hari adalah Asyura, dan setiap tanah adalah Karbala). Di bagian depan, bergambar Imam Khomeini dengan tulisan Assalamu alaika ya Ababillah (Salam bagimu ya Ababillah/ Sayidina Husain). Tak hanya itu, dia juga mengenakan ikat kepala bertuliskan "Ya Husain". Setiap Tahun Peringatan Asyura tersebut diselenggarakan Yayasan Nuruts Syaqolain. Tak cuma kali ini, tetapi setiap tahun pada tanggal 10 Asyura. Setelah berbagai sambutan, acara dimulai dengan ceramah oleh Ustad Husein Al Kaf dari Bandung. Kepada umat yang datang, dia menekankan bahwa Peringatan 10 Asyura bukan semata-mata untuk mengagungkan ketokohan Sayidina Husain. Lebih dari itu untuk mengingat perjuangannya dalam menentang kezaliman. "Dengan memperingati Peristiwa Karbala, umat diharapkan mampu meresapi nilai-nilai perjuangan Sayidina Husein dalam menegakkan keadilan. Implementasi dari peringatan ini adalah membangkitkan spirit perjuangan umat melawan kebatilan dan kezaliman. Ini relevan dengan kondisi Tanah Air yang carut-marut," tutur dia. Seusai acara ceramah, dilakukan pembacaan maktam Peristiwa Karbala oleh Habib Zen Alatas. Tak semata membaca, habib dari Malang itu melagukannya dengan nada nestapa. Tak heran, jika jamaah menyambutnya dengan uraian air mata. Setelah sekitar tiga jam berjalan, acara ditutup dengan manaqib Sayidina Husain RA yang dipimpin Habib Segaf Abdillah. (Rukardi, Fahmi ZM-60t) |