| Jumat, 10 Februari 2006 | NASIONAL |
Nasib Para Nelayan Miskin (2-Habis)"Seandainya Raskin Kami Terima Utuh..."
HIDUP dalam kondisi kekurangan, bukanlah menjadi pilihan warga Desa Prapag Lor, Kecamatan Losari, Brebes. Kondisi tersebut, terjadi akibat lingkaran kemiskinan yang selama ini telah menjerat mereka. Selain tidak dapat melaut akibat kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan ombak besar, saat ini mereka juga dihadapkan kepada harga beras yang melambung tinggi. Jangankan mereka, masyarakat yang masih punya penghasilan rutin pun menjerit dan terpaksa mengencangkan ikat pinggang. Terlebih, selama ini warga Desa Prapag Lor mengaku tidak mendapatkan penyaluran beras miskin (raskin) secara utuh. Mereka hanya mendapatkan raskin sebanyak tiga kilogram setiap bulannya, untuk setiap keluarga. Bahkan, dalam tiga bulan terakhir, mereka mengaku tidak mendapatkan jatah raskin. Akibatnya, sejak dua bulan terakhir, mereka terpaksa makan nasi aking (loyang) yang biasa untuk makanan itik. Padahal, kehadiran raskin sangat berarti bagi masyarakat di desa tersebut. Menurut seorang warga, Titik (32), dengan adanya raskin, mereka bisa merasakan nasi dari beras dengan harga murah. Sebab, setiap tiga kilogram beras, satu keluarga hanya dikenai biaya Rp 3.500. Nilai gizi dan kebersihan makanan untuk anak-anak mereka pun bisa terjaga. Sementara itu apabila makan nasi aking, mereka hanya mendapatkan rasa kenyang. Pasalnya, menurut mereka, rasa nasi aking tidak enak. Selain hambar, seringkali terasa getir dan berbau. Hal itu, terutama terjadi apabila nasi aking yang dimasak berasal dari nasi basi atau nasi yang sudah pernah bercampur dengan sayur. Titik menuturkan, untuk memasak nasi aking pun, diperlukan waktu lebih lama. Pasalnya, nasi aking harus direndam dan dicuci sehingga benar-benar bersih. Proses perendaman membutuhkan waktu sekitar satu jam, sehingga nasi aking menjadi lunak. Selain itu, harus dicuci sehingga benar-benar bersih, tidak bau. "Kalau tidak terpaksa, sebenarnya kami juga tidak ingin makan nasi aking," ujarnya. Hal serupa juga dikemukakan warga Desa Prapag Lor lainnya, Daspini (37). Menurutnya, seandainya jatah raskin yang diterima warga miskin bisa utuh 20 kilogram, pasti warga tidak akan kelaparan dan tidak terpaksa makan nasi aking. Namun karena raskin hanya dibagikan sebanyak tiga kilogram, dengan alasan bagi rata, warga yang benar-benar membutuhkannya pun tidak bisa tercukupi. Sementara itu, ada orang yang sebenarnya mampu ikut menikmati jatah raskin. Hal itu diakui oleh Kepala Dusun III Desa Prapag Lor, Kecamatan Losari, Maksudi. Menurutnya, lebih dari 90 persen warga Desa Prapag Lor atau sekitar 1.600 keluarga menerima penyaluran raskin dengan alokasi beras sekitar 48 ton. Saat penyaluran pertama, raskin dibagikan sesuai dengan ketentuan, yaitu 20 kilogram per keluarga. Namun kemudian muncul protes dari sejumlah anggota masyarakat yang tidak menerima. Akhirnya, jatah raskin untuk tiap keluarga dikurangi menjadi 10 kilogram, agar bisa lebih banyak yang menerima. Hal itu masih menimbulkan protes lagi. Oleh karena itu, agar tidak menimbulkan gejolak, akhirnya diputuskan raskin dibagi rata lagi kepada semua warga desa. Menurut Maksudi, keluarga yang tidak menerima raskin hanyalah mereka yang memang benar-benar menolaknya. Dengan kondisi yang ada saat ini, warga Desa Prapag Lor benar-benar membutuhkan bantuan. Kepedulian masyarakat untuk berbagi rasa bersama mereka, sedikit banyak akan menyelamatkan generasi muda Desa Prapag Lor dari ancaman kemiskinan dan kebodohan yang lebih parah lagi. Setelah sebelumnya Pemkab Brebes menyumbang paket sembako, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyumbang lima ton beras dan paket mi instan, Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (DPD HIPMI) Jateng serta DPC HIPMI Tegal dan Brebes juga memberikan bantuan. Bantuan yang diserahkan oleh Ketua III DPD HIPMI Jateng, H Wahyudin Noor Aly, beserta sejumlah pengurus DPC Tegal dan DPC Brebes tersebut berupa 2,5 ton beras dan sekitar 70 dus mi instan. Diharapkan, bantuan itu dapat digunakan oleh warga untuk menutup kesulitan membeli beras. Warga mengaku, meskipun belum semua bantuan sampai ke tangannya, namun mereka merasa senang. Pasalnya, harapan untuk bisa makan nasi dari beras kembali akan terpenuhi. Salah seorang tokoh masyarakat Desa Prapag Lor, Wasang (47) mengatakan, bantuan beras akan segera dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Diharapkan, mereka segera mengganti kebiasaaan makan nasi aking dengan nasi dari beras. Selain untuk menjaga kebersihan dan kesehatan, makan beras jauh lebih baik dibandingkan dengan makan nasi aking. Menurutnya, selama ini warga terpaksa makan nasi aking karena tidak mampu membeli beras. Oleh karena itu, untuk dapat bertahan hidup, warga rela makan apa saja, termasuk makan nasi aking. (Wawan Hudiyanto-14a) | ||||