logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 10 Februari 2006 INTERNASIONAL
Line

Diplomat Mesir Diculik di Gaza

GAZA - Orang-orang bersenjata Palestina menculik seorang atase militer Mesir di Gaza, Kamis kemarin. Insiden itu terjadi saat para pemimpin Hamas berunding di Kairo untuk membentuk pemerintahan baru Palestina.

Motif penculikan diplomat Mesir Hussam el-Musli belum jelas dan belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab. Penculikan itu merupakan yang pertama di Gaza selama hampir tiga pekan.

Kantor perwakilan Mesir mengidentifikasi Musli sebagai atase militer. Para saksi mata menuturkan orang-orang bersenjata menembak ban mobil yang ditumpangi Musli, sehingga memaksa mobil tersebut berhenti. Mereka kemudian menyeret Musli masuk ke kendaraan mereka dan kabur.

Gaza mengalami sejumlah penculikan sejak panarikan mundur Israel dari wilayah itu September lalu. Musli merupakan diplomat pertama yang diculik di Gaza. Di kota ini, warga asing yang ditangkap kelompok militan segera dibebaskan.

Pasukan keamanan Palestina dikerahkan di jalan utama utara-selatan di Jalur Gaza. Mereka menghentikan kendaraan dalam upaya mencari diplomat Mesir tersebut. Seluruh faksi Palestina menyatakan mereka menjalin hubungan baik dengan Mesir, yang dua kali menengahi gencatan antara kelompok militan dan Israel.

Para pemimpin Hamas dari wilayah Palestina dan di pengasingan mengadakan perundingan di Kairo, Rabu lalu. Mereka membahas pembentukan pemerintahan baru setelah kelompok Islam itu mengalahkan Fatah dalam pemilihan 25 Januari lalu.

Di perbatasan Erez antara Gaza dan Israel, tentara Israel membunuh dua orang bersenjata Palestina. Kedua orang itu melempar granat dan melepaskan tembakan ke aras tentara Israel, kata juru bicara AD Israel di Tel Aviv.

Dalam insiden terpisah di dekat Erez, tentara Israel menembak dua warga Palestina yang tampaknya sedang menanam bom, lanjut juru bicara tadi. Tim medis Palestina menyatakan seorang warga Palestina tewas.

AS Menolak

Sementara itu, AS, Rabu lalu, menolak tindakan sepihak Israel untuk menetapkan perbatasannya dengan Palestina, dan menanggapi dengan dingin pernyataan-pernyataan yang dibuat penjabat PM Ehud Olmert. Tapi Washington tidak menentang hak Israel untuk menahan puluhan juta dolar sebulan hasil pendapatan pajak yang dikumpulkan untuk Palestina, jika kelompok Hamas berkuasa.

Sikap itu ditegaskan ketika Menlu AS Condoleezza Rice dan Menlu baru Israel Tzipi Livni bertemu untuk membicarakan situasi politik yang keruh setelah kemenangan Hamas dalam pemilihan parlemen bulan lalu. Rice menanggapi dengan dingin pernyataan Olmert pada Selasa lalu di televisi Israel bahwa negara Yahudi itu akan tetap mempertahankan Lembah Jordan ''blok permukiman lebih besar'' di Tepi Barat dan ''Jerusalem yang utuh'' dalam setiap perjanjian perdamaian akhir.

''Tidak satu pihakpun berusaha dan menetapkan secara sepihak terlebih dulu hasil dari satu perjanjian status akhir,'' kata Rice dalam konferensi pers bersama Livni setelah perundingan pertama mereka.

Rice mengulangi sikap Presiden George W Bush tentang perlunya memperhitungkan ''realitas baru di lapangan''" di wilayah-wilayah yang diduduki Israel dalam perang tahun 1967 dengan tetangga-tetangga Arabnya.

Rice dan Livni mengutarakan kembali perasaan was-was mereka tentang tampilnya Hamas. Diplomat Israel itu menyatakan Hamas akan mengubah Pemerintah Palestina menjadi''sebuah negara teror'' yang pantas mendapat sanksi-sanksi internasional. (rtr-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA