| Jumat, 10 Februari 2006 | INTERNASIONAL |
PM Thaksin Akan Berjuang sampai MatiBANGKOK - Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra mengatakan Kamis kemarin bahwa dia akan berjuang sampai mati melawan upaya-upaya penggulingannya. Thaksin melontarkan pernyataan itu setelah oposisi berjanji akan menggelar unjuk rasa yang lebih besar akhir pekan ini. Sebelumnya, sekitar 40.000 orang berdemonstrasi menuntut Thaksin mundur di Bangkok, Sabtu lalu. ''Saya akan berjuang sampai mati untuk menegakkan demokrasi,'' kata Thaksin di hadapan 5.000 pendukungnya, kemarin. ''Saya hanya akan mundur bila negara tidak mengalami masalah lagi.'' Para pendukung Thaksin itu meliputi kaum pengusaha sampai pelajar SMA yang memberinya bunga dan membentangkan spanduk: ''Bapak Perdana Menteri, Anda pahlawan bagi rakyat miskin''. Thaksin terpilih kembali sebagai PM setahun lalu. Namun popularitasnya merosot di kalangan menengah dan akademisi. Sebab, dia mengizinkan perusahaan telekomunikasi milik keluarganya bebas pajak penjualan. Saham Shin Corp dijual ke Temasek, perusahaan investasi negara Singapura, dengan harga 1,9 miliar dolar AS bulan lalu. Namun hasil penjualan saham itu tidak dikenai pajak. Berubah Pikiran Keputusan Thaksin itu menyulut aksi protes di Royal Plaza, Bangkok, Sabtu lalu. Itu merupakan demonstrasi terbesar di Thailand dalam 14 tahun terakhir. Aksi protes itu dimotori oleh Sondhi Limthongkul, konglomerat media Thailand. Dia dulu berkawan dengan Thaksin, tetapi kini mendesak PM Thailand itu mundur. Thaksin membalas aksi massa itu dengan melarang demonstrasi di Royal Plaza. Alasannya, lapangan itu terlalu dekat dengan istana Raja Bhumibol Adulyadej. Selain itu, demonstrasi juga menyebabkan kemacetan. Namun kemarin dia berubah pikiran. Dia mengatakan kepada wartawan asing bahwa dia akan mengizinkan demonstrasi di Royal Plaza, dengan beberapa syarat tertentu. ''Saya kira Royal Plaza bukan tempat yang tepat. Namun jika mereka ingin berunjuk rasa di sana, pemerintah terpaksa menggunakan hukum dengan cara demokratis, bukan diktator,'' kata dia. Para organisator demo mengklaim akan membawa lebih banyak massa dalam unjuk rasa Sabtu mendatang. ''Sondhi mulai menyalakan lilin yang akan menjadi obor besar pada unjuk rasa 11 Februari,'' kata Chaiwat Sinsuwong, juru bicara Jaringan Rakyat untuk Demokrasi, yang sebelumnya merupakan sekutu Thaksin. ''Kami punya kepentingan sama, yakni mendepak Thaksin.'' Jaringan itu terdiri atas kelompok-kelompok petani, kaum miskin kota, serikat buruh, mahasiswa, dan dosen. Mereka berkampanye untuk menggulingkan Thaksin dengan tuduhan mencuri aset negara. ''Pertarungan telah beralihan. Semula, Thaksin lawan Sondhi. Kini rakyat lawan perdana menteri,'' kata Panthep Puapongpun, eks pejabat dalam pemerintahan Thaksin yang kini bekerja untuk Sondhi. Pengusaha Rosana Torsitrakul mengatakan dia akan meminta keputusan dari pengadilan dan badan regulator pasar untuk membatalkan penjualan Shin Corp tersebut. ''Ini bukan sekadar penjualan saham di sebuah perusahaan. Ini merupakan penjualan aset-aset negara,'' kata dia. ''Kita harus berjuang sampai Thaksin digulingkan.''(rtr-ben-26) |