logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 10 Februari 2006 INTERNASIONAL
Line

Prancis: Pemuatan Kartun Nabi Tindakan Provokasi

PARIS - Presiden Prancis Jacques Chirac mengecam keras media yang memuat kartun Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, pemuatan itu merupakan provokasi.

''Apa pun yang bisa menyinggung keyakinan orang lain, khususnya keyakinan beragama, harus dihindari. Kebebasan berekspresi harus dilakukan dalam semangat tanggung jawab,'' tegas Chirac di depan kabinet Prancis, kemarin.

Presiden Prancis itu menegaskan, dirinya tidak mengabaikan adanya kebebasan berekspresi.

''Menyangkut isu karikatur dan reaksi yang timbul di dunia muslim, saya ingin mengatakan bahwa jika kebebasan berekspresi merupakan fondasi republik Prancis, maka fondasi itu juga bergantung pada nilai-nilai toleransi dan respek atas semua keyakinan,'' lanjutnya.

Chirac menyampaikan hal itu untuk menanggapi media-media Eropa, termasuk Prancis yang ikut-ikutan memuat kartun Nabi Muhammad SAW. Pemuatan tersebut telah mengundang kemarahan umat muslim dunia.

Mingguan Prancis Charlie Hebdo, Rabu lalu (08/02) memuat ulang 12 kartun kontroversial Nabi Muhammad yang kali pertama diterbitkan koran Denmark, Jyllands-Posten pada September lalu.

Menurut Charlie Hebdo, 160 ribu eksemplar yang dicetak awal pada hari itu terjual habis dengan cepat. Sampai-sampai harus dicetak ulang beberapa ribu eksemplar lagi.

Sebelumnya beberapa surat kabar Prancis lainnya, termasuk Le Monde, Liberation dan France-Soir, telah lebih dulu memuat ulang beberapa kartun Rasulullah dengan dalih kebebasan pers.

Tuduhan AS

Sementara itu Amerika Serikat kemarin menuduh Iran dan Suriah sengaja mengobarkan kemarahan umat Islam menyangkut kartun itu.

''Iran dan Suriah sudah kebablasan mengobarkan sentimen-sentimen warga muslim dan menggunakan isu ini demi tujuan mereka sendiri,'' kata Menlu AS Condoleezza Rice kepada pers. Kebetulan, dua negara itu adalah musuh utama Amerika saat ini.

Presiden George W Bush mendesak pemerintahan negara-negara untuk menghentikan aksi kekerasan, seperti misalnya serangan-serangan terhadap misi-misi diplomatik di negara-negara muslim.

Korban tewas di Qalat, Afghanistan, Rabu malam lalu menambah jumlah korban tewas dalam serangkaian unjuk rasa ini menjadi 10 orang.

Polisi menembakkan senapan ke udara untuk membubarkan pemrotes yang melempari pangkalan militer AS di Qalat.

''Kami menerima tiga jenazah dan 20 pasien cedera,'' kata Zahir Shah, seorang doktor di Rumah Sakit Umum Pusat Qalat. Majelis ulama Afghanistan menyerukan agar protes-protes itu diakhiri.

Puluhan ribu warga muslim menggelar demonstrasi di Timur Tengah, Asia dan Afrika memprotes pemuatan kartun itu.

Kalangan pejabat dan diplomat Eropa yakin, aksi kekerasan terhadap misi diplomatik dan warga Eropa di Suriah, Lebanon, Iran serta Jalur Gaza diprovokasi oleh pemerintah atau kelompok-kelompok politik tertentu.

''Siapa pun yang mengenal Suriah tahu kalau orang-orang itu tidak akan begitu saja berbondong-bondong dan berdemonstrasi tanpa ada restu dari pemerintah,'' kata seorang pejabat Uni Eropa. Para menteri Lebanon menuding Suriah sebagai dalang aksi pembakaran kantor konsulat Denmark di Beirut.

Duta Besar Suriah di Washington Imad Moustapha membantah pernyataan Rice. Dia mengatakan, kehadiran tentara militer AS di Irak dan kehadiran Israel di Palestina itulah yang mengobarkan sentimen anti-Barat.(rtr-dtc-gn-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA