| Rabu, 08 Februari 2006 | SALA |
Hari Ini Gusti Mangku Tingalan Jumenengan Ke-17PURA MANGKUNEGARAN - Rabu Legi, 9 Sura hari ini, KGPAA Mangkunagoro IX menggelar ritual tingalan wiyosan jumenengan atau ulang tahun tahta ke-17. Acara dipusatkan di Pendapa Agung Pura setempat. Meski akhirnya dijadwalkan ada kegiatan wisuda, sampai kemarin panitia tidak bisa menyebutkan siapa dan berapa orang yang akan diwisuda menjadi kerabat baru atau sekadar naik pangkat. "Sudah ada dawuh untuk mengadakan wisudan. Mungkin nanti malam, kami baru bisa mendapat dawuh mengenai siapa dan jumlah pesertanya," tutur KRMT Trenggono selaku Ketua Panitia Peringatan 1 Sura dan Tingalan Jumenengan 2006, ketika dimintai konfirmasi Suara Merdeka, kemarin. Di tempat terpisah, sebelumnya MNG Supriyanto Waluyo selaku Pjs Bupati Mandrapura Mangkunegaran menyatakan, dalam rangkaian peringatan suran Pura Mangkunegaran masih memiliki beberapa acara. Di antaranya ritual tingalan wiyosan jumenengan dalem yang berlangsung pagi ini, dengan sajian tunggal tari bedaya anglir mendung. Sampai kemarin, ritual tingalan yang semula tanpa rangkain lain seperti wisudan itu, akhirnya dilangsungkan juga. Meski begitu, menurut MNg Supriyanto, dua kegiatan tersebut hanya akan berlangsung dalam satu rangkaian kegiatan pada pagi hingga siang ini. "Agar efektif dan efisien dalam banyak hal, ritual tingalan maupun upacara wisudan kami jadikan satu. Bahkan, wilujengan-nya juga dijadikan satu, dari pagi hingga selesai siang besok (hari ini-Red). Sore hingga malam, tidak ada kegiatan apa-apa," tutur KRMT Tranggono lagi. Selain ritual tingalan dan wisudan, Pura masih punya beberapa ritual lain meskipun tidak secara langsung. Yaitu jamasan pusaka Pura yang ada di Kabupaten Karanganyar, sedang jamasan di Kabupaten Wonogiri terlaksana Minggu, 5 Februari lalu. Ritual Lain Sementara itu, Keraton Surakarta kemarin menjalankan ritual lain di bulan Sura setelah kirab pusaka, 30 Januari lalu. Yaitu ritual ngesis wayang atau mengangin-anginkan anak wayang setiap 35 hari sekali di Gedong Sasana Handrawina yang jatuh pada Selasa Kliwon, kemarin. Menurut GPH Puger selaku Pengageng Museum dan Pariwisata, setelah ngesis wayang pihaknya menyiapkan sebuah ritual untuk memperingati kepindahan Keraton dari Kartasura ke Surakarta 261 tahun silam. Peringatan dilangsungkan 17 Sura yang jatuh pada tanggal 16 Februari. Sementara mengenai bentuk peringatan, hanya kenduri wilujengan dukutan yang menghadirkan sentana dan abdi dalem yang sehari-hari berdinas di Keraton. "Kalau tidak salah, ini 'kan hasil kesepakatan setelah terjadi kekeliruan dalam mengambil keputusan beberapa waktu lampau. Pemkot (Surakarta-Red) mengambil 17 Februari-nya, la Keraton mengambil 17 Sura-nya. Ya sudah, biarlah begitu," tuturnya. Wilujengan peringatan kepindahan Keraton yang dimaksud, tambah GPH Puger, akan diserahkan pada abdi dalem juru suranata. Mereka yang akan melaksanakan doa untuk keselamatan bangsa dan negara yang disimbolkan dengan jenang suran, sesaji pepak ageng keblat papat dan sebagainya, sekaligus untuk peringatan dukutan. Berkait dengan peringatan hari jadi Kota Bengawan, dia menyatakan rencana Pemkot menggelar kirab budaya belum diketahui secara pasti, apakah akan melibatkan Keraton. Sebab beberapa waktu lalu, Dinas Pariwisata Seni dan Budaya mengadakan rapat panitia persiapan yang antara lain mengagendakan kirab budaya sebagai salah satu kegiatannya. (won-42m) |