logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 08 Februari 2006 SALA
Line

Animo terhadap Sanggar Pambiwara Keraton Menurun

BALUWARTI - Friksi yang pernah terjadi di dalam keluarga besar Keraton Surakarta soal suksesi kepemimpinan beberapa waktu lalu, ternyata berimbas terhadap persepsi sebagian masyarakat. Akibatnya, animo peserta kursus MC Jawa atau pambiwara turun drastis. Dari rata-rata sebelumnya di atas 100 orang, kini menjadi hanya 67 orang pada angkatan 19 periode Juli-Desember 2005.

"Meski bukan satu-satunya penyebab, menurunnya jumlah peserta pasinaon (kursus-Red) angkatan 19 ini bisa jadi karena kemelut friksi kemarin. Mudah-mudahan segera pulih," harap KRMH Raditya Lintang Sasangka selaku pimpinan Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta kepada Suara Merdeka, belum lama ini.

Sebanyak 67 siswa kursus angkatan 19 itu, kemarin diwisuda di Bangsal Smarakata, kompleks Keraton. Selain KRMH Raditya selaku "kepala sekolah", wisuda yang ditandai dengan pengalungan samir dan penyerahan kekancingan juga dilakukan GKR Wandansari selaku Pimpinan Yayasan Pawiyatan Budaya beserta suaminya KP Edy Wirabhumi.

Menurut KP Edy Wirabhumi selaku kerabat Keraton, peristiwa suksesi beberapa waktu lalu bukan satu-satunya penyebab penurunan animo siswa sanggar pasinaon. Banyak faktor lain yang memengaruhi, di antaranya kondisi dan situasi ekonomi membuat orang lebih mengutamakan urusan kebutuhan rumah tangga dibanding dengan keperluan lain seperti kursus pambiwara.

"Tetapi agaknya memang perlu dievaluasi semua aspek yang menyangkut proses belajar sanggar pasinaon. Mungkin saja karena tempat kurang memadai atau karena beban kebutuhan ekonomi yang cukup berat untuk diwujudkan masyarakat luas. Akibatnya mereka menunda keinginan untuk belajar tentang budaya Jawa di Keraton," tuturnya.

Meski demikian, harap KRMH Raditya dan KP Edy, animo masyarakat pada angkatan 20 yang pendaftarannya masih dibuka hingga akhir Februari, akan kembali meningkat. Sebab, belajar tentang budaya Jawa di Keraton, pada hakikatnya sama dengan belajar tentang dasar-dasar berkehidupan atau berkomunitas sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya Jawa.

Berkait dengan itu, GKR Wandansari dalam sambutannya mengajak para lulusan sanggar pasinaon untuk tetap berkomunikasi dengan Keraton dan menjadi keluarga besar komunitas adat penerus Dinasti Mataram, melalui wadah organisasi Pasipamarta. Salah satu aktivitas nyata yang bisa dilakukan di Keraton adalah tugas tugur atau jaga dan nganglang atau patroli keliling Keraton yang penjadwalannya hanya setiap 6 bulan sekali.

"Dalam tugur dan nganglang yang sudah berjalan, ada 3.600 anggota Pakasa yang terlibat. Ditambah warga Pasipamarta lulusan pertama sampai sekarang, bisa 5 ribu orang lebih. Giliran jaganya, sehari dua shif dan setiap shif cukup 20 orang. Mereka pun mengenakan seragam kejawen," sebut keduanya. (won-42m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA