logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 08 Februari 2006 NASIONAL
Line

Dinormalisasi, Sungai Waridin Masih Sebabkan Banjir


SEDIMENTASI: Sungai Waridin di Kecamatan Brangsong, Kendal, mengalami sedimentasi yang cukup tinggi. Warga setempat memanfaatkan tanah hasil sedimentasi itu untuk membuat batu bata.(30a) SM/Jamal Al Ashari

KENDAL - Hasil normalisasi Sungai Waridin di Kecamatan Brangsong, Kendal, yang didanai oleh APBN dan APBD Jateng tidak sesuai dengan keinginan warga setempat. Meski pengerjaannya sudah selesai, tapi banjir akibat meluapnya sungai itu masih selalu merendam permukiman dan tambak di sekitarnya.

Terakhir, pada akhir Januari lalu, sebagian besar permukiman dan tambak di dua desa -yakni Kebonadem, Kecamatan Brangsong, dan Desa Wonorejo, Kecamatan Kaliwungu- terendam banjir. Kondisi itu menjadi keprihatinan Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD Jateng, Masruhan Samsurie, yang meninjau lokasi, Selasa (7/2) kemarin.

''Bayangkan, setiap tahun ada dana proyek untuk normalisasi sungai tersebut, tapi masih selalu banjir. Kami khawatir, proyek-proyek di sungai itu hanya menjadi sapi perahan pihak-pihak tertentu,'' ungkap dia.

Dalam kunjungan itu, Masruhan yang mengajak sejumlah wartawan disambut oleh Kepala Desa Kebonadem, Asrokin; Kepala Desa Wonorejo, Sholeh Mahmudi; dan anggota DPRD Kendal, M Taufik.

Taufik menjelaskan, pada 2005 telah dikucurkan dana dari APBD Jateng sebesar Rp 2,5 miliar untuk normalisasi sejumlah sungai di Kendal. Dari jumlah itu, Rp 500 juta di antaranya untuk normalisasi Sungai Waridin yang memiliki lebar awal 30 meter. Sebelumnya, pada 2003, sungai tersebut sudah menerima kucuran dana dari APBN sekitar Rp 2-3 miliar untuk kegiatan yang sama.

''Rencananya, pada 2006 ini dari provinsi akan turun lagi sebesar Rp 2 miliar dari dana instruksi gubernur (ingub),'' tutur Taufik.

Sementara itu Kades, Asrokin, menjelaskan, daya tampung air pada sungai itu tinggal seperempat dari kapasitas awal dibangun pada 1985-1986. Sekarang, tiga perempat kapasitas aliran air/badan sungai sudah dipenuhi sedimentasi tanah dan tanaman pisang.

Terendam Banjir

Sungai itu dibangun untuk menyelamatkan kota Kecamatan Kaliwungu dari banjir yang selalu merendam pada musim hujan. Pada sepuluh tahun pertama setelah dioperasikan dengan lebar sungai 30 meter, banjir bisa diatasi. Namun selama sepuluh tahun terakhir, banjir kembali sering melanda.

Permintaan warga, normalisasi tersebut dilakukan secara menyeluruh sampai sedimentasi di sepanjang sungai itu terangkat ke berm sungai atau dibuang ke lokasi lain. Pada akhirnya, nantinya senderan yang dua puluh tahun silam terlihat, kembali dapat disaksikan lagi.

''Dari pengamatan kami, normalisasi yang dilakukan selama ini hanya pengerukan di dasar sungai, lalu ditampung di badan sungai lagi,'' tuturnya.

Karena normalisasi tidak tuntas, maka setiap kali musim hujan datang, sekitar 335 rumah warga di Dusun Kauman, Kebonadem, dan Kradenan, Desa Kebonadem, sering terendam banjir akibat luapan air dari Sungai Waridin.

Kepala Desa Wonorejo, Sholeh Mahmudi, menuturkan, akibat banjir dari Sungai Waridin, 1.900 rumah di empat dusun di Desa Wonorejo terendam banjir. Selain itu, tambak seluas sekitar 600 hektare juga terendam. Para petani tambak diperkirakan mengalami kerugian sampai Rp 3 miliar lebih. (G17-29a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA