| Rabu, 08 Februari 2006 | NASIONAL |
''Shalat Khusyuk, Jangan Terlalu Metentheng''INGIN shalat secara khusyuk? Janganlah melakukannya dengan terlalu metentheng ingin berkonsentrasi. Justru jika ingin khusyuk, perlu menjadikan shalat sebagai relaksasi. Demikian dikemukakan Ustad Abu Sangkan dalam "Seminar Shalat Khusyuk" di Gedung Dharma Wanita Persatuan Semarang, kemarin. Ditambahkannya, shalat merupakan sambung rasa antara Tuhan dan hamba-Nya. ''Shalat yang benar akan membuat kita 'terbang','' katanya. Namun, tuturnya dalam acara yang diselenggarakan Lembaga Bimbingan dan Konsultasi Tasawuf (Lembkota) Semarang, kewajiban shalat yang diperintahkan kepada umat sejak kecil oleh orang tua terkadang justru dirasakan sebagai sebuah beban. ''Tidak percaya? Coba kalau sudah mengucapkan salam di akhir shalat, di bawah sadar kita merasa lega dan seakan-akan terbebas dari beban,'' katanya, yang disambut tawa para peserta. Dia menambahkan, terkadang lucu juga mendengar seseorang ketika diajak shalat mengatakan, ''Ah nanti saja shalatnya, kalau pikiranku sudah tenang.'' Hal ini menunjukkan shalat merupakan bagian rutinitas yang amat membebani hidup. Shalat bukan lagi bagian dari kebutuhan rohani selayaknya orang butuh istirahat (rileks) di gunung, di pub atau rekreasi di pantai untuk mengendurkan saraf-saraf yang tegang. ''Padahal, Nabi mengatakan, jadikanlah shalat sebagai istirahatmu,'' kata Abu. Secara teknis dijelaskannya bagaimana fisik dirilekskan ketika shalat. Saat ruku letakkan tangan di lutut, lalu renggangkan jari-jari. Diamlah sehingga setiap anggota tubuh kembali ke posisinya. Kemudian sujud yang lama akan membuat darah turun ke kepala sehingga oksigen dan nutrisi terkirim ke otak. Harus Ikhlas Ketika muncul pertanyaan mengenai bagaimana mencapai khusyuk dalam shalat, muncul pula beraneka jawaban. Ada yang menganjurkan untuk mengerti setiap kalimat yang diucapkan dalam shalat, ada yang menganjurkan memandang tempat sujud, dan lain-lain. ''Semuanya itu baik. Namun pada pokoknya semua cara itu harus menyentuh hakikat shalat, yaitu rasa berkomunikasi dan menerima respons dari yang disembah,'' tuturnya. Banyak orang yang shalat, namun tanpa disadari sudah keluar dari "kesadaran shalat". Dengan demikian, bergeser niatnya bukan lagi karena Allah SWT. ''Perasaan khusyuk tidak mungkin didapatkan jika kita tidak memiliki kesadaran dan kepercayaan bahwa kita sedang berhadapan dengan Allah,'' kata Abu. Karena itu, mulai niat dan kemudian berdiri untuk shalat, hati harus ikhlas. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar shalat kita "nyambung"? Menurutnya, perasaan sangat berperan dalam membuka komunikasi dengan Allah. Shalat yang nyambung adalah ketika tergetar hati kala menyebut asma Allah. Setelah itu fisik dan hati menjadi sangat tenang dan lega. ''Pada tahap selanjutnya, kenikmatan akan terasa di seluruh tubuh,'' jelasnya. Memasuki Shalat Dalam bukunya Pelatihan Shalat Khusyuk, Abu Sangkan menjelaskan langkah-langkah memasuki shalat. Pertama, heningkan pikiran agar rileks. Usahakan tubuh tidak tegang. Tak perlu mengonsentrasikan pikiran sampai mengerutkan kening, karena justru akan merasakan pusing dan capek. Kedua, rasakan getaran kalbu yang bening dan sambungkan rasa itu dengan Allah. Biasanya jika sudah tersambung, suasana sangat hening dan tenang serta terasa getarannya menyelimuti jiwa dan fisik. ''Getaran jiwa inilah yang menyambungkan kepada Zat, yang menyebabkan pikiran tidak liar ke sana kemari.'' Ketiga, bangkitkan kesadaran diri bahwa kita sedang berhadapan dengan Zat yang Mahakuasa, akan menyembah sujud kepada-Nya serendah-rendahnya. Kemudian akan menyerahkan diri kita dengan sukarela. Keempat, berniatlah dengan sengaja dan sadar sehingga muncul getaran rasa yang sangat halus dan kuat menarik rohani meluncur ke hadirat-Nya. Rasakanlah getaran itu ketika mengucapkan Allahu Akbar. Kelima, pada saat ruku dan sujud, rasakan pula ruh kita melakukan bersama dengan tubuh kita. Biasanya terasa sekali rohani ketika memuji Allah dan akan berpengaruh kepada fisik, menjadi lebih tunduk, ringan, dan harmonis. Selanjutnya sempurnakanlah kesadaran shalat sampai salam. ''Shalat yang benar pada akhirnya akan mengubah tabiat jelek seseorang. Kalau setiap hari shalat, tapi kelakuannya tetap jelek, berarti shalatnya belum benar,'' kata Abu. (bp-60t) |