logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 08 Februari 2006 NASIONAL
Line

Liku-liku Peredaran Uang Palsu

Butuh Dua Pekan untuk Cetak Rp 1 Miliar

Uang palsu (upal) pecahan seratus ribu bergambar Ki Hajar Dewantara yang dibuat Andi Khodrin sekilas sangat mirip dengan aslinya. Hanya saja dia mungkin tidak mampu membuat lambang BI seperti aslinya. Warna upal tersebut juga cenderung agak gelap. Tapi jika dibelanjakan pada malam hari siapa yang tahu jika uang tersebut palsu. Bagaimana Andi bisa membuat upal dan seperti apa liku-liku kehidupannya, berikut wartawan Suara Merdeka Rony Yuwono melaporkan.

ANDI KHODRIN (41) dulu bercita-cita ingin menjadi guru. Karenanya ia kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Sulawesi Utara. Sepulang kuliah, pria yang telah dikaruniai empat anak tersebut, menyambi menjadi sopir angkota di Bone. Suami Fatmawati (41) asal Bugis ini juga pernah menjadi guru honorer SMA. '

'Saya lulus kuliah tahun 1990 selama enam bulan menjadi tenaga honorer di SMA Satria Bone,'' terang dia yang membuat upal di Jalan Tlogosari Raya I No 78 Semarang itu.

Karena tidak betah, lalu pada 1991 Andi merantau ke Jepara. Ia bekerja di sebuah perusahaan mebel yang berada di Desa Semat, Kecamatan Tahunan, Jepara di bagian finishing. ''Waktu itu saya ikut teman,'' kenang Andi yang menikah lagi secara siri dengan Rini (40) warga Gunungpati Semarang, janda empat anak. Bekerja di mebel ia tekuni dari 1991 hingga 1997. Selanjutnya dia beralih ke bidang jual beli sepeda motor dan mobil hingga sekarang.

Pada 2003 ia pernah tersandung kasus pengedaran upal dan mendekam di LP Kedungpane Semarang selama delapan bulan.

''Saya pernah mengantar Suripan (warga Kudus) membawa upal Rp 300 juta,'' ucap dia. Keluar dari penjara tidak membuat Andi berubah. Dari pengalaman itu terbersit dalam pikirannya untuk membuat upal dalam jumlah besar. ''Saya terpaksa membuat upal karena selain ada yang memesan juga terdesak kebutuhan ekonomi,'' terang Andi.

Dalam perjalanan selanjutnya dia bertemu dengan L asal Purwokerto (buron polisi) di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara. Singkat kata L diketahuinya ahli dalam bidang komputer. Lalu direkrutlah L untuk bekerja sama. Selain L, Andi juga merekrut E warga Bogor (dalam pencarian petugas) yang belakangan menjadi ahli sablon upal. Andi tidak mengaku darimana keahlian membuat upal tersebut didapat. ''Yang membuat adalah mereka (L dan E),'' aku dia.

Namun saat diminta menjelaskan cara pembuatan upal dia dengan lancar menerangkannya. Menurut dia, kali pertama yang dilakukan adalah memprogram gambar uang asli di komputer. Setelah kualitas cetakan gambar dinilai bagus kemudian dicetak.

''Setelah cetakan kering, gambar air Ki Hajar Dewantara disablon di papan film sablon,'' papar dia. Garis mengkilat pada pecahan seratus ribu tersebut menurut Andi juga ikut disablon.

Namun ia tidak bisa meniru lambang BI yang berwarna agak coklat berkilauan. Andi dan kawan-kawan hanya bisa membuat lambang BI dengan warna coklat biasa.

Rp 1 Miliar

Sebelum mengontrak di Jalan Tlogosari Raya I No 78 Semarang bersama L dan E pada pertengahan Januari lalu, Andi mengontrak di Jalan Gombel Permai Gang III No 357 Semarang, sekitar Desember 2005. Di sana dia kenal dengan Hendro (49). Sebelum mencetak upal, Andi sempat meminjam uang Hendro Rp 2,5 juta untuk membeli tinta. Hendro tinggal di Jalan Gombel Permai Gang III No 376 (tidak jauh dari kontrakan Andi yang pertama-Red). ''Saat pertama kenalan, Andi mengaku sebagai sales,'' aku Hendro yang berasal dari Desa/ Kecamatan Wedung Demak. Ia mengaku sesekali bertandang ke kontrakan Andi yang ada di Jalan Tlogosari Raya Semarang tersebut.

Peralatan lain seperti komputer, printer bermerek Samsung, papan sablon, dan kertas Hamer, dibelinya dengan modal awal Rp 10 juta. Uang tersebut milik Andi, L, dan E. ''Jadi modal awal saya Rp 12, 5 juta,'' ujar Andi. Upal kali pertama dijualnya sebanyak Rp 20 juta kepada Yatim (26) warga Pati. Tetapi dia kewalahan ketika Yatim untuk kali kedua memesan Rp 2 miliar.

''Saya hanya sanggup Rp 1 miliar upal,'' terangnya. Untuk membuat upal Rp 1 miliar ia mengaku membutuhkan waktu selama dua minggu.

Akhirnya upal Rp 1 miliar dibawanya ke Pati untuk menemui Yatim. Andi dan Hendro berboncengan naik sepeda motor milik tetangga Rini (istri kedua Andi) ke Pemancingan Umum Sendang Sani, Pati. Mereka tidak tahu jika Yatim yang sudah ditangkap pada Jumat (3/ 2) hanya sebagai umpan. Di pemancingan tersebut, pada Sabtu (4/ 2) satuan Reserse Polres Semarang akhirnya menangkap mereka. Dari kawanan sindikat ini petugas juga berhasil menangkap 14 tersangka lainnya yang berperan sebagai pengedar dan pembeli. (14)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA