| Rabu, 08 Februari 2006 | SEMARANG |
Pohon Cinta, Diburu Remaja dan Kaum IbuSEBUAH pohon lazimnya berbatang kokoh, berdaun hijau, dan berbuah lebat. Tapi pernahkah menemukan sebuah pohon dengan batang berwarna merah jambu, tanpa daun, tetapi berbuah lebat? Jika tidak melihat sendiri, bisa dipastikan orang tak akan percaya dan menganggapnya sebagai isapan jempol belaka. Ketidakpercayaan orang tersebut akan berubah menjadi kekaguman tatkala menyaksikan sendiri pohon itu di Fortune Cake yang berada di Jl Taman Seteran Selatan No 2. Buah yang menggelantung terlihat berbeda dari pohon-pohon yang lain. Pohon setinggi 27 cm ini ternyata berbuah cokelat dengan bentuk-bentuk yang lucu dan menarik. Cokelat berbentuk hati dengan warna-warna lembut itu membuat pohon ini berkesan romantis. "Ini disebut pohon cinta,'' kata pemilik Fortune Cake Agrepina Aileen. Pohon cinta ini sengaja dibuat dalam rangka menyambut Hari Valentine yang jatuh pada 14 Februari. Untuk itu, jumlah pohon yang dibuat Agrepina tak tanggung-tanggung. "Kami membuat 150 pohon,'' tutur dia. Pohon ini tidaklah dibuat tanpa makna. "Diharapkan cinta yang dimiliki setiap orang bisa terus tumbuh subur seperti layaknya pohon,'' ungkap Agrepina. Apa yang dilakukan Agrepina dengan membuat pohon cinta ini bukan tak beralasan. "Dengan jumlah tersebut, pohon ini bisa memecahkan rekor Musemum Rekor Indnesia (Muri) sebagai replika pohon cinta terbanyak dengan kategori belum pernah ada sebelumnya,'' jelas wanita cantik ini. Demi wujud 150 replika pohon, biaya yang dikeluarkan Agrepina tidak bisa dikatakan sedikit. Rp 16 juta dirogoh dari kantongnya untuk mewujudkan ide wanita yang murah senyum ini. Tetapi agaknya, uang itu tak sebanding dengan kebahagian yang diperoleh. Sebab, dia berhasil mewujudkan apa yang menjadi keinginannya. Berkah Hujan Selama proses pembuatan tak banyak kendala yang dihadapi. Hal yang dirasa agak mengganggu adalah menemukan ranting pohon yang berbentuk unik sebagai tempat cokelat bergantung. Musim hujan juga membantunya. Saat hujan kan banyak pohon yang tumbang. Dari pohon tumbang tersebut, ranting-ranting ini diperoleh. "Tiap sore kami jalan-jalan untuk mencari pohon tumbang,'' tuturnya sembari tersenyum. Untuk membuat 150 pohon, Agrepina membutuhkan 150 kg cokelat blok, 50 kertas hias berukuran 79 cm x 109 cm, dan 50 lembar stereofoam. Selain itu, dibutuhkan 250 lembar kertas pembungkus dan 5 rol kawat pengikat. Dalam mengerjakan, Agrepina dibantu sepuluh karyawan. "Mereka mulai bekerja pukul 08.00 WIB hingga 21.00 WIB,'' ungkapnya. Tampaknya ''kecantikan'' pohon yang dimilki Agrepina banyak diminati. Sampai saat ini, pesanan berdatangan meski harga yang dipatok untuk tiap pohon tidaklah murah. Wanita yang aktif mengikuti kursus membuat kue hingga ke luar negeri ini menetapkan harga Rp 95.000/pohon. Akan tetapi, tampaknya harga mahal tak mampu menghalangi seseorang untuk memberikan hadiah pada orang yang dicintainya. Sebagian besar pemesan adalah remaja. "Tetapi ada juga ibu-ibu yang pesan untuk suaminya.'' (Roosalina, Hernandono-18m) |