| Rabu, 08 Februari 2006 | KEDU & DIY |
Hujan Deras, Tanah Ketep Pass LongsorBOROBUDUR - Akibat hujan deras terus-menerus belakangan ini, sebagian tanah di Ketep Pass longsor dan sebagian retak di beberapa titik. Belum dihitung kerugian akibat bencana ini. ''Tanah Bukit Ketep mungkin agak labil sehingga tekstur tanahnya perlu diteliti ahli geologi,'' tutur Kabag Pembangunan Pemkab Magelang Dra Sri Wahyuti, kemarin. Ia mengungkapkan soal tanah retak dan longsor akan dirapatkan tim, kemudian dilaporkan pada Bupati untuk ditangani segera. Meski demikian, ia menegaskan, hingga saat ini Ketep Pass masih relatif aman dan nyaman untuk kunjungan wisata. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang Drs Wibowo Setyo Utomo SU mengemukakan, hujan deras sore hari 24 Januari 2006, mengakibatkan tanah Ketep longsor. Setelah itu pondasi areal parkir milik Warendi di depan Vulcano Centre, ambles sepanjang 20 meter. Longsor di depan pintu masuk Ketep Pass, sebelah timur Volcano Theatre dan pelataran Panca Arga, merusak delapan kios. Juga terjadi tanah retak 30-an meter di areal parkir depan Volcano Theater. Pengelola Taman Wisata Ketep Pass diminta memperbaiki pipa saluran air bersih ke sejumlah toilet dan bak penampungan yang tersumbat longsoran tanah. Untuk sementara, kendaraan besar dilarang parkir di halaman depan Volcano Theatre. Pemicu Dalam suratnya pada Bupati Magelang, Kabid Cipta Karya DPU Kabupaten Magelang Ir Bambang Dono Kuncoro mengemukakan, aliran air hujan seperti di belakang atau samping Vulcano Theater merupakan salah satu pemicu tanah longsor di kawasan itu. Menurut dia, longsoran tanah yang terjadi, merupakan upaya alam dalam menemukan keseimbangan baru. Tanah longsor di Ketep disebabkan kombinasi lereng terjal, tanah gembur, dan curah hujan tinggi. Ia mengemukakan, sebelum dibangun, Bukit Ketep sudah mencapai keseimbangan alamiah. Saat pembangunan fisik, terkait dengan pengembangan wisata, terjadi pergeseran keseimbangan. ''Di Bukit Ketep perlu dipikirkan konsep kompromis yang bisa melestarikan alam tetapi tidak mengabaikan potensi wisata,'' ujarnya. Bambang menyarankan, perlu rencana akurat dan melibatkan tenaga ahli untuk mengatasi rawan longsor Bukit Ketep. Segala bentuk pembangunan fisik yang dikawatirkan memperbesar pergeseran keseimbangan alam, harus ditunda. Selain itu, perlu studi geologi untuk memetakan permukaan tanah secara lengkap (kontur, bangunan, dan bentuk lahan), data sifat tanah, serta data kestabilan tanah yang akan menjadi bahan rekomendasi perlakuan lahan Bukit Ketep. Kabag Pembangunan Sri Wahyuti berpendapat serupa. ''Kalau dari hasil penelitian ahli geologi, tekstur tanah Ketep tidak layak dibangun dan perlu penataan lebih lanjut.''(pr-39m) |