logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 08 Februari 2006 KEDU & DIY
Line

Pantai Petanahan untuk Membudidayakan Ikan Air Tawar

  • Tahun Lalu Panen 28 Ton

IDE kelompok tani lahan pasir pantai selatan Kebumen ini patut diacungi jempol. Dengan memanfaatkan lahan sawah tadah hujan yang tergenang air pada tiap musim hujan, puluhan ribu ekor ikan bisa dipelihara.

Ada berbagai jenis ikan air tawar seperti karper, greskap, ikan mas, dan lele. Ikan-ikan tersebut mulai disebar di kolam ''alam'' kawasan Pantai Petanahan sejak Desember/awal Januari lalu atau setelah penen padi gaga. Berarti, baru dua setengah bulan.

Namun sekarang, ikan-ikan itu sudah sebesar dua-tiga jari tangan manusia. Budi daya ikan itu ada di Desa Karanggadung, Tegalretno, dan Karangreja Kecamatan Petanahan, seluas 150 hektare.

Sisanya ada di Desa Sidoharjo, Waluyorejo, dan Surorejan Kecamatan Puring. Desa-desa tersebut berada di kawasan pantai selatan yang setiap musim hujan selalu tergenang air hingga menyerupai rawa-rawa.

Uniknya, ikan-ikan itu selama dipelihara enam sampai tujuh bulan, praktis tak perlu diberi makan. Maklum, menurut Dirun yang didampingi Iping warga Desa Karanggadung, ikan-ikan itu cukup memakan rumput serta akar batang padi.

''Coba lihat, rumput seperti ini saja dimakan ikan-ikan itu. Kalau dipelihara di kolam biasa, ikan sebesar dua tiga jari tangan kita itu butuh waktu tujuh bulan,'' ungkap Dirun yang mengaku telah lima tahun memelihara ikan memanfaatkan air ''rob'' di Pantai Petanahan. Lalu kapan ikan-ikan air tawar itu akan dipanen? Menurut Edo, petani lain, biasanya dipanen sekitar Juli-Agustus mendatang. Saat itu diperkirakan ikan-ikan itu telah berbobot satu kilogram per ekor. Jika nilai jual per kilogram Rp 7.000, tinggal menghitung berapa pendapatan mereka.

Namun Iping buru-buru menjelaskan, modal untuk memelihara ikan di lahan alam itu tidaklah sedikit. Menurut dia, sesuai dengan catatan Kelompok Mina Padi Rukun Damai itu, modal untuk membeli bibit ikan dan kelambu Rp 21.250.000.

''Saya sampai harus menjual motor untuk modal membeli bibit ikan ke Ngrajek Magelang. Luas lahan kami 50 hektare,'' ucap petani mina padi yang juga karyawan harian objek wisata Pantai Petanahan itu.

Tercatat, bibit ikan yang disebar musim hujan ini 145.000 ekor. Biaya lain yang harus dikeluarkan adalah untuk membeli kelambu pengaman dan pembatas, mendirikan gubuk/pos jaga, rokok, dan uang makan.

Maklumlah, lahan yang disebari ikan sangat luas, sehingga pada siang dan malam hari perlu dijaga. Para penjaga butuh rokok dan makan. ''Ya itu tadi, untuk upah penjaga dan pengeluaran harian lain masih gratisan alias dicatat saja. Nanti dibayar saat panen ikan,'' tambah Edo.

Optimistis

Iping optimistis tahun ini panen ikan meningkat tajam. Selain lahan yang dimanfaatkan jauh lebih luas, curah hujan kebetulan tinggi.

''Saya harap ada pengusaha luar kota datang ke Petanahan pada Juli-Agustus nanti untuk membeli ikan segar kami.''

Menurut petugas Pengawas Perikanan Dinas Peternakan, Perikanan Kelautan Kebumen di Petanahan, Suprapti, pemeliharaan relatif mudah karena ikan-ikan itu bisa mendapatkan makan langsung di alam. Paling hanya saat mendekati panen, perlu pakan tambahan.

Sebab, lanjut wanita itu, makanan ikan sebenarnya cukup rumput, lumut, planton, dan akar batang padi atau tanaman lain. Justru karena makanan alami, ikan-ikan itu cepat tumbuh dan sehat ketika dikonsumsi.

Apalagi selama ini, daerah pantai selatan Kebumen masih relatif bebas dari pencemaran. Tahun lalu, dari catatan Suprapti, total panen ikan mencapai 28 ton. Tinggal mengalikan per kilogram Rp 7.000 tadi.

Ikan-ikan panenan kelompok tani mina padi di Petanahan itu dijual ke Wonosobo, Purbalingga, dan sekitar Kebumen. Para petani berharap, tahun ini pangsa pasar bisa lebih luas dan harga lebih baik.

Dirun menyatakan, potensi budi daya ikan air tawar di kawasan pantai selatan sangat besar. Sebab setiap musim hujan, tanah sawah berpasir tadah hujan selalu digenangi air dan baru surut ketika memasuki kemarau atau Juli-Agustus. ''Anehnya, Pemkab dan dinas belum serius mengembangkan potensi itu,'' tandas petani ikan berambut gondrong tersebut. Ya, kita memang kerap mengesampingkan hal-hal kecil yang bermanfaat besar, seperti mina padi di Kebumen. (Komper Wardopo-39m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA