| Senin, 06 Februari 2006 | SALA |
Pemkab Berlakukan Siaga SatuWONOGIRI - Menyikapi kemunculan bencana alam yang belakangan ini sering terjadi, terutama bersamaan dengan musim hujan, Pemkab Wonogiri memberlakukan siaga satu dan membuka pelayanan pos komando (posko) penanggulangan bencana alam 24 jam nonstop. Yang Menjalankan Tugas (YMT) Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kabupaten Wonogiri Yudo Sasomo mengatakan, pembukaan posko yang menempati sudut barat daya ruang pendapa Kabupaten Wonogiri itu, sebagai tindak lanjut instruksi Bupati Begug Poernomosidi. Bupati, kata Yudo, menginginkan peran posko dapat memberikan pelayanan cepat secara maksimal dalam penanganan kasus-kasus bencana alam di Wonogiri. Laporan kejadian bencana alam dari daerah, tambah Kabag Humas Pemkab Wonogiri Eko Muslich Martono, oleh petugas piket posko akan segera disampaikan langsung ke Bupati, pihak dinas, instansi, kantor, dan lembaga terkait yang memiliki kewenangan dalam penanggulangan bencana alam. Personel yang dilibatkan dalam pelayanan selama 24 jam itu bertugas secara bergantian, yakni gabungan aparat dari Satpol PP, Kantor Kesbanglinmas, Bagian Pembangunan Pemkab, dan dari Bagian Sosial Ekonomi (Sosek) Pemkab Wonogiri. "Namun yang sekarang disiplin piket di posko baru dari anggota Satpol PP. Aparat dari bagian lain masih ditunggu kedatangannya," ujar Yudo Sasomo. Camat Tirtomoyo Tardjo Harsono menyampaikan laporan kasus bencana alam susulan, berupa tanah longsor di Dusun Nglorok Desa Hargorejo Kecamatan Tirtomoyo. Dampak dari tanah longsor itu menyebabkan tembok rumah ukuran 54 meter persegi milik Sutrisno, yang dihuni oleh lima orang, mengalami kerusakan. Sementara itu, laporan dari Camat Kismantoro Budi Susilo menyebutkan, akibat hujan deras yang berkepanjangan, jembatan dan saluran irigasi di Desa Pucung Kecamatan Kismantoro ambrol. Ukuran jembatan yang ambrol itu, panjang 9,8 meter, lebar 5,5 meter, dan tinggi 4 meter. Untuk penanganan darurat, masyarakat bergotong royong membuat jalan alternatif. Kemudian kerusakan pada saluran irigasi Pucung Kecamatan Kismantoro, memanjang sekitar 16 meter. Akibatnya, suplai air irigasi untuk pengairanan sekitar 40 ha sawah menjadi terganggu dan terancam telantar. Petani setempat secara darurat berusaha memasang pipa paralon sebagai upaya mengalirkan air demi menyelamatkan tanaman padi berusia 40 hari. Sebelumnya, tujuh rumah di Dusun Sumber Desa Pare Kecamatan Selogiri, dilaporkan juga terkena bencana tanah longsor. Sebanyak tiga rumah warga di Dusun Serut dan Traman yang termasuk kawasan Desa Pare, juga rusak karena bencana tanah longsor. Ketiga rumah yang rusak tersebut adalah milik Warino, Gunawan, dan Ny Kasinah. (P27-42d) |