logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Februari 2006 RAGAM
Line

Anak sebagai Amanat

T: Assalamu 'alaikum wr. Wb. Yth. Bapak Amin Syukur, kami berdua adalah dokter, alhamdulillah telah dikaruniai empat orang anak, yang tiga sehat sedang yang satu kurang beruntung. Kami berdua telah melaksanakan shalat fardlu dan tahajjud, sudah menunaikan ibadah haji untuk memohon kepada Allah SWT., dan kami pun telah berusaha ke mana-mana, tetapi sampai sekarang belum menemui jalan terang. Bagaimana sebaiknya? Mohon petunjuk.

Fulan dan Fulanah di Solo

J: Wa'alaikum salam wr. wb. Setelah membaca surat Anda berdua, pikiran saya terbagi dua, merasa bahagia karena Anda telah diberi kebahagiaan berupa tiga anak yang normal, dan merasa empati ketika Anda menceritakan mempunyai satu anak yang kurang beruntung. Dengan surat Anda berdua, saya bisa membayangkan betapa susahnya sebagai orang tua, ketika melihat anaknya yang kurang beruntung itu.

Tetapi perlu diingat bahwa semuanya itu sudah terjadi dan menjadi skenario Allah SWT., usaha semaksimal sudah Anda lakukan, maka yang paling penting ialah menata hati Anda berdua sambil menyadari, bahwa cobaan bisa berupa kebaikan, dan bisa pula berupa kejelekan. Allah telah menandaskan hal tersebut dalam Alquran Surah al-Anbiya/21:35 dan al-Baqarah/2:155.

Ujian Allah bisa berupa kebaikan dan kejelekan. Namun dalam kenyataannya sering manusia kurang bersyukur ketika menerima kenikmatan dan kurang sabar ketika mendapat musibah. Padahal Allah melalui hadits Qudsi-Nya sangat bangga terhadap umat-Nya yang mempunyai sikap syukur dan sabar. Semuanya, baik musibah maupun nikmat dianggapnya sebagai yang terbaik bagi Allah terhadap dirinya. Semoga Anda termasuk orang yang dibanggakan oleh Allah SWT.

Seyogyanya kita perlu merenung banyak nikmat-Nya yang telah kita peroleh, kemudian seberapa kita mensyukurinya. Usia kita misalnya 50 tahun, berapa tahun sehat dan berapa hari sakit, pasti jawabnya adalah: ''lebih lama sehat daripada sakit'', tetapi ketika menerima cobaan sakit, kita kurang atau tidak bisa menerimanya.

Sikap-sikap batin positif (sabar, ikhlas, ridla dan tawakkal) harus diresapi dengan sepenuh hati, tidak hanya dipikir dan diomongkan, tetapi dirasakan. Sehingga kita bisa menerima kenyataan, sepahit apa pun kenyataan itu. Yakinlah bahwa itu adalah sudah menjadi sekenario Tuhan, yang nantinya Anda akan memperoleh hikmah yang belum kita ketahui.

Berkenaan dengan masalah anak, Allah berfirman dalam banyak ayat, misalnya dalam al-Munafiqun/63:9 yang artinya: ''Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta dan anak-anakmu melupakan kamu dari ingat kepada Allah. Barang siapa yang melakukan hal itu, maka mereka termasuk orang-orang yang merugi''. Dalam surah al-Anfal/8:28 Allah berfirman: ''Ketahuilah bahwa sesungguhnya harta-harta dan anak-anakmu adalah fitnah (cobaan) dan sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar''.

Dengan dua ayat tersebut, Allah menggambarkan jangan sampai anak melupakan kita kepada Allah, karena sesungguhnya anak adalah ujian, tetapi di sisi Allah akan diperoleh pahala yang besar. Berlatih (ryadlah) dan berjuanglah (mujahadah) memenej hati ke arah itu.

Jika kita mempunyai anak yang secara kebetulan kurang beruntung, maka semestinya ujian itu diterima dengan hati yang sabar, tabah, ikhlas, ridla dan tawakkal. Karena dengan kondisi anak yang demikian, akan menjadikan kita lebih dekat dengan-Nya, banyak dzikir, tasbih, tahmid dan sebagainya. Dengan penghayatan itu, hati terasa lega, karena semuanya minallaah, lillaah, billaah, ilallaah (semuanya berasal dari Allah, milik Allah, atas pertolongan Allah dan akan kembali kepada Allah). Dan sebaliknya, jangan sampai mempunyai anak yang kurang beruntung itu akan melupakan diri untuk ingat kepada-Nya. Bahkan jangan sampai mempunyai sikap buruk sangka (suu`udhdhan) kepada-Nya.

Saya sarankan agar Anda berdua pandai memenej hati, agar tidak terjebak pada stres. Tekanan batin ini bisa karena merasa malu dengan teman-teman Anda. Ketahuilah bahwa anak adalah amanah (titipan) Allah, Dia yang menentukan segalanya, termasuk kecacatannya. Manusia tidak mampu mengelak, meskipun sebagai manusia perlu menyertai sikap tawakkalnya dengan ikhtiar, usaha keras. Kita hendaknya bisa menerima kenyataan hidup, agar tercapai kebahagiaan di dunia, dan di akherat nanti. Tanggung jawab Anda berdua di akherat sudah gugur, tidak menanggung dosa, karena kondisi anak yang tidak memungkinkan. Wallahu a'lam bish shawab. Demikian, semoga ada manfaatnya bagi kita semua.(12)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA