| Senin, 06 Februari 2006 | EKONOMI |
Produsen Minuman Ringan Inginkan DiundurSEMARANG-Rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang akan diterapkan dalam waktu dekat ini memunculkan kekhawatiran bagi sejumlah industri, termasuk produsen minuman Coca-Cola. General Manager PT Coca-Cola Distribution Indonesia Jateng Dwi Harjono berharap kenaikan TDL ini bisa diundur hingga semester kedua. Pasalnya, imbas situasi perekonomian yang memburuk tahun 2005 diperkirakan masih terasa hingga semester pertama tahun ini. Saat ini banyak perusahaan yang masih melakukan penyesuaian terhadap situasi tersebut. Apabila TDL benar-benar naik, maka akan semakin mempersulit laju usaha. ''Tahun lalu sudah banyak kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kegiatan bisnis. Namun kami menilai kenaikan TDL memang tak bisa dielakkan. Karenanya kami hanya bisa berupaya menjalankannya sebagai tantangan,'' katanya Jumat (3/2). Ia berharap memburuknya situasi perekonomian tidak mempengaruhi jumlah peminum produk minuman ringan. Meski persentase pengeluaran biaya produksi untuk energi listrik di perusahaannya tergolong kecil, sekitar 6-7%, kenaikan TDL tetap akan berimbas pada pembengkakkan biaya operasional. Selama ini sumber energi listrik yang dimilikinya lebih banyak disuplai PLN. ''Akhirnya kami dituntut bisa melakukan efisiensi agar tidak terjadi pembengkakkan lebih besar,'' katanya. Tahun ini manajemen Coca-Cola berupaya mampu mempertahankan angka pertumbuhan yang mencapai 2 digit tanpa memberikan angka pasti. Produk Sprite masih menjadi andalan dibandingkan produk lain, seperti Coca-Cola, Fanta, Frestea, dan Powerade Isotonik. Pungutan Liar Hal senada diungkapkan manajemen perusahaan air minum yang baru berkembang Cherindo, produsen Beverin Green Tea. Direktur Cherindo Edy Susianto mengungkapkan kenaikan TDL berpengaruh besar terhadap kinerja perusahaannya. Pasalnya, sumber energi listrik yang dimiliki sepenuhnya tergantung dari PLN. Seandainya penerapan kenaikan TDL bisa diundur, tentu akan lebih baik. Karena perusahaan bisa melakukan berbagai penyesuaian terhadap kenaikan itu. Saat ini biaya operasional untuk listrik sudah mencapai 10% dari total pengeluaran. Dengan adanya kenaikan TDL ini, maka pihaknya berupaya mengurangi biaya-biaya pendukung produksi, namun tetap diupayakan tidak mengurangi mutu produk. Selain itu, tingkat keuntungan yang diperoleh pun dipastikan berkurang. Ia mengatakan kenaikan TDL sebagai kebijakan pemerintah memang sulit dihindari. Karenanya, dia berharap semua biaya lain yang ilegal dan cukup membuat biaya operasional perusahaan melambung bisa dihilangkan. ''Biaya, seperti perizinan usaha dan berbagai macam pungutan liar, hingga kini masih terbilang tinggi. Kami berharap ini bisa dipangkas, sehingga tetap menggairahkan dunia usaha,'' katanya. (mhr-33) |