logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 26 Januari 2006 SALA
Line

Solo Jadi Magnet Pelestari Koes Plus (2-Habis)

Sampai Lahir 16 Grup Baru

HADIRNYA grup Pelangi Plus Band dari Pedurungan, Semarang, di acara parade band pelestari album-album Koes Plus yang digelar THR Sriwedari dan Koes Plus Fans Club (KPFC), 21-22 Januari lalu, menunjukkan bahwa imbas kebangkitan merindu kenangan lama masa ''Koes Bersaudara'' berjaya, makin luas. Kalau mau ditelusur lebih jauh, bahkan mungkin tidak hanya grup itu satu-satunya di Semarang, tetapi bisa lebih banyak lagi, bahkan di kota-kota lain seperti Kudus, Magelang, Yogya, dan Ngawi (Jatim).

Untuk lebih melukiskan realitas kebangkitan itu, hadirnya 16 grup baru di hari pertama parade itu menjadi bukti nyata bagaimana album-album Koes Plus memiliki kekuatan dalam waktu yang panjang. Karena mereka itu lahir dalam satu atau dua tahun ini.

Mereka adalah Jayjatul Band, Semoga Jaya, JJ Plus, Persada Band, dan O La La Band dari Sukoharjo, Kramayudha Plus, Thick Byar Plus, Bharata Plus, Nagari Plus, Olala Plus, Ringroad Band, Ringroad Plus, dan DLLAJ Band dari Solo, Java Rakyat dari Klaten, AB Plus dari Sragen dan Kartika Band dari Karanganyar.

Sederetan grup yang anggotanya rata-rata berusia 25 tahun itu, benar-benar merupakan grup baru dan rata-rata sudah tampak mapan gaya dan kualitas permainannya. Adapun yang tampil di hari kedua, Minggu (22/1), antara lain Koeswantoro Band dari Klaten, Pelangi Band, Yes Plus, dan K-Fox Band dari Sukoharjo, Pelangi Plus (Semarang), De Lapasso, Music Plus, dan Solo Plus dari Solo, JS Plus (Muntilan), Dhipo Band (Kudus) dan B Four Plus dari Yogya.

Bukan hanya sekadar mengikuti tren mode bermusik seperti latah berjangkit di berbagai kota belakangan ini, ataupun ikut-ikutan menyanyikan lagu-lagu Koes Plus. Akan tetapi yang diekspresikan dengan meniru persis warna dan karakter suara personel Koes Plus, hingga meniru gaya permainannya di panggung itu, tentu sulit dikatakan iseng.

Terlebih, begitu lahir hingga melayani job-job pentas, walau di panggung-panggung kecil kelas kampung, grup-grup itu langsung menahbiskan diri sebagai grup yang khusus mendendangkan lagu-lagu karya Tonny Koeswoyo bersaudara itu. Sebab itu, kebangkitan yang disertai daya dukung cukup komplet dan mengakar sampai ke bawah itu, sangat sulit dikatakan kelahirannya hanya sekadar tren mode belaka.

Legitimasi kebangkitan Koes Plus, ''virusnya'' ternyata sudah merasuk sampai ke tingkat rukun tetangga (RT). Sebab, hampir di setiap kampung terdapat kelompok pecinta yang menjadi anggota Koes Plus Fans Club (KPFC) Surakarta. Sebut saja suami-istri Soedomo (53)-Sri Mulatsih (50), warga Kampung Dawung Kulon, Serengan, Solo yang tidak pernah melewatkan sekalipun setiap ada suguhan album-album Koes Plus, baik di THR Siwedari maupun di lain tempat, terutama di kampung sendiri. Keduanya adalah bagian dari kurang lebih seratus pecinta dari kampung itu yang rela membeli tiket masuk Rp 4.000/orang untuk menyaksikan grup apa saja yang tampil menyajikan album-album Koes Plus, terlebih bila yang tampil Nusantara Band, Hoss Band, dan grup lain sekelasnya.

Dengan daya dukung para penggemar dari kampung-kampung di Solo saja, tentu akan menyuburkan kehidupan jenis musik ini. Belum lagi kalau berbicara grup-grup dari daerah lain, yang tentu memiliki pendukung dan fans club (FC) dari daerah masing-masing. Seperti sebuah grup dari Ngawi misalnya, yang begitu banyak anggota FC-nya, karena grup itu dipimpin dan ditopang dana dari bupatinya sendiri.

Selain legitimasi yang begitu kuat menancap, keberadaan KGPAA Mangkunagoro IX beserta puluhan abdi dalem yang tergabung dalam Mangkunegaran Fans Club, Wali Kota Joko Widodo dan grup pecintanya, Wakil Wali Kota Hadi Rudyatmo beserta wadya balanya, tentu menambah daya dukung semakin berkembangluasnya sosialisasi musik Koes Plus. Belum lagi tokoh-tokoh atau public figure lain, yang ikut mewarnai setiap ada pertunjukan musik itu, khususnya di THR Sriwedari, hingga tontonan ini enak didengar, indah ditonton, dan suasananya segar serta santun, karena nyaris bebas dari bau alkohol dan tawuran.(Won Poerwono-55v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA