| Kamis, 26 Januari 2006 | MURIA |
Jumlah Penderita DB MenurunWarga Diminta Tetap WaspadaBLORA - Meski pada Januari ini jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) di Blora menurun, Dinas Kesehatan setempat meminta warga tetap waspada. Warga diminta tetap giat melakukan gerakan pembasmian sarang nyamuk (PSN). Kepala Dinkes Blora dokter Budhi Tjahjanto MM melalui Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Lilik Hernanto SKM MKes kemarin menjelaskan, hingga akhir Januari ini hanya ada enam kasus DBD. "Kami prediksikan hingga Maret, jumlah penderitanya relatif sedikit. Namun mengingat siklus lima tahunan, diprediksi pada pertengahan 2006 terjadi lonjakan kasus DBD. Kami mengimbau semua orang tua untuk segera membawa anggota keluarganya yang menderita demam tinggi ke rumah sakit, puskesmas, atau dokter terdekat," jelasnya. Sebagaimana diberitakan, pada tahun 2005 jumlah penderita DB di Blora mencapai 150 orang. Empat di antaranya meninggal dunia. Mereka adalah warga Kelurahan Balun Kecamatan Cepu, warga Desa Sumberejo Kecamatan Randublatung, warga Desa Wado Kecamatan Kedungtuban, dan seorang warga Jl Mr Iskandar, Blora. Lebih lanjut Lilik menjelaskan, dari literatur yang ada dapat disebutkan, dalam selang lima tahun, zat antibodi seseorang terhadap serangan DBD akan menurun. Dampaknya, akan mudah terserang penyakit serupa. Berdasarkan teori itu, mengingat pada tahun 2001 di Blora pernah terjadi lonjakan kasus DB dengan jumlah penderita mencapai 409 orang, 21 di antaranya meninggal, diprediksi dalam tahun ini akan terjadi lonjakan. "Ini yang kami sebut siklus lima tahunan," tandasnya. Sebagai gambaran, pada tahun 1996 jumlah penderita DB mencapai 622 orang, 31 di antaranya meninggal dunia. Sementara itu lima tahun sebelumnya, yakni tahun 2001, penderita DB yang meninggal 21 orang dari total penderita 409 orang. Disinggung masalah pengasapan dia menjelaskan, keterbatasan dana menyebabkan Dinkes bertindak selektif dalam melakukan pengasapan. Yakni, hanya dilakukan di beberapa kawasan yang termasuk endemis DB. "Yang penting masyarakat tetap melakukan PSN. Sebab, cara ini untuk sementara dinilai paling efektif." (ud-50n) |