| Kamis, 26 Januari 2006 | MURIA |
Penebas Juga Ikut MerugiPENDAPAT yang menyatakan bahwa nasib penebas hasil panen petani jauh lebih baik daripada petani, tak semua benar. Hal itu paling tidak dikuatkan oleh Suyoto, warga Beru Genjang, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. "Nggak selamanya saya mendapatkan keuntungan. Namun, terkadang juga buntung," akunya. Anjloknya harga beras seperti sekarang ini yang diakibatkan hasil panen datang bersamaan dan ditambah dengan kadar air yang tinggi, juga menimbulkan persoalan tersendiri baginya. Sebab jika harga dari petani sudah anjlok, dia akan menjualnya kepada pemroses dengan harga yang juga tak begitu tinggi. Bila pada kondisi ideal, satu hektare sawah petani yang siap panen, dirinya bisa membeli dengan harga Rp 8 juta. Namun, pada saat sekarang ini, kemampuan belinya hanya berkisar Rp 7 juta/ha. Hasil gabah yang baru ditebasnya tersebut tak lantas dapat menghasilkan uang kembali, karena harus dikeringkan terlebih dahulu. "Sekarang ini mau dikeringkan pakai apa, wong hujan turun setiap hari," tandasnya. Jika memang memaksa, Suyoto terpaksa menjualnya kembali dengan kondisi gabah yang masih basah. Akibatnya, harga beli dari pemroses pun rendah. "Misalnya, jika saya beli dari petani Rp 1.700/kg dan tak segera dapat dikeringkan, saya terkadang melepas dengan harga Rp 1.600/kg," ujarnya. Pada masa panen MT I seperti sekarang ini, dirinya biasa menebas 40 ha sawah milik warga. Modal awal untuk bisnis tersebut, ujarnya, berkisar Rp 10 juta. Jika kondisinya stabil, baik kualitas maupun kuantitas padinya, dia biasa menjual kepada pemroses di Demak dan Pati. Bila kualitas gabah jelek, dia akan segera menyetor ke langganannya di Indramayu. Tentunya, dengan harga yang sangat rendah. "Terkadang memang bisa untung besar. Namun, jika kondisi seperti ini, keuntungan akan berkurang dan kalau lagi apes, malah merugi besar," tandasnya. (Anton Wahyu Hartono-54s) |