| Kamis, 26 Januari 2006 | MURIA |
Mengais Rupiah dari Soal-soal Ujian Masuk CPNSSIANG itu, mendung menggelayut di langit Kota Kretek. Pada sebuah sudut teras Kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnakertrans) Kudus, terlihat seorang bocah laki-laki mengatur sederetan buku fotocopy kumpulan soal-soal ujian masuk CPNS. Lapak tak seberapa luas itu, dipenuhi fotocopy soal ujian masuk sekaligus dilengkapi dengan jawabannya. "Lima ribu rupiah dua boleh?" tawar seorang ibu paro baya. Osa Ari Wibowo, demikian nama bocah itu, hanya tersenyum. Sepertinya, itu adalah jurus andalannya untuk menanggapi calon pembeli yang mencoba menawar harga yang sebelumnya telah dipatoknya Rp 5.000/buku. Dan ia berhasil, entah iba atau jengah, sang ibu tersebut urung menawar dan menuruti harga yang diminta Osa. "Osa dapat Rp 500 dari setiap buku soal yang dijualnya. Lumayan kan buat mengisi liburan," ucap Hadi Mulatno, warga RT 8 RW 3 Dukuh Piji Wetan Desa Lau, Kecamatan Dawe. Hadi Mulatno adalah kakek dari Osa, yang berjualan tak jauh dari lapak bocah yang baru duduk di kelas 3 SD itu. Berbeda dengan Osa, lelaki pensiunan PNS itu memilih menjajakan fotocopy pengumuman penerimaan PNS Kabupaten Kudus dengan berkeliling di sekitar kantor. Ya, sebuah pembagian tugas untuk satu tujuan, mengeruk lebih banyak keuntungan dari momentum penerimaan CPNS tahun ini. Agaknya, pembagian tugas berlaku untuk satu trah kakek yang masih terlihat bugar di usia senjanya itu. Orang tua Osa, pasangan Agung Widodo dan Harini Widiastuti, ternyata juga mempunyai aktivitas yang sama. Agung malah sudah mempunyai sejumlah anak buah yang berada hingga Pati. Dia telah menekuni usaha tersebut hampir sepuluh tahun. Seluruh Keluarga Jualan "Hampir seluruh anggota keluarga kami berjualan seperti ini. Tidak terbatas pada penerimaan CPNS, pada masa penerimaan mahasiswa baru pun kami berjualan, dengan barang dagangan disesuaikan dengan kebutuhan," ungkapnya. Disebutkannya, adik dari Osa yang masih berusia tiga dan empat tahun pun turut berjualan. Mereka menjual alat tulis yang biasa dibutuhkan para peserta ujian. Selain itu, istri Hadi, bernama Nurwati, pada saat yang sama juga tengah berjualan di Kantor Departemen Agama Kudus. "Adik istri saya juga berjualan di lokasi yang berbeda. Untungnya lumayan," katanya. Dia menyebutkan, dari hasil berjualan selama sehari dia berhasil mengantongi Rp 300.000. Nominal tersebut masih kotor, belum dipotong biaya fotocopy dan keperluan lain.(Satryani Kartika Ningrum-17) |