logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 26 Januari 2006 MURIA
Line

Angin Grubugan Rusak Padi Siap Panen

  • Petani Terpaksa Memanen

KUDUS - Selain bencana banjir yang hingga kini masih menggenangi ribuan hektare sawah pada musim tanam (MT) I 2005-2006 ini, ternyata sejumlah kendala masih dihadapi petani menjelang panen yang akan berlangsung sepekan mendatang itu.

Beberapa hari sebelum petani memetik jerih hasil payah yang dilakukan tiga bulan yang lalu, tanaman padi mereka kini mulai rusak akibat terjangan angin kencang.

Pada musim hujan seperti sekarang, tiupan angin kencang yang oleh sebagian warga dinamakan angin grubugan itu memang sering mengancam panen para petani.

Meski kerusakan yang ditimbulkan tak separah banjir, jika intensitas terjangannya tinggi, dipastikan akan membuat kerusakan yang cukup berarti.

"Angin tersebut sudah dirasakan sejak dua pekan terakhir. Hal itu ditandai dengan tiupan kencang pada malam hari," kata Ketua Kelompok Tani Beru Rejo di Desa Beru Genjang, Undaan, Kudus, Kiswo, kemarin.

Lebih lanjut dia menyatakan angin tersebut bisa menyebabkan pengisian bulir (tanaman muda) tidak maksimal. Pada tanaman padi tua, besar kemungkinan hal itu akan menyebabkan munculnya kecambah pada bulir-bulir padi.

Dari 100 hektare lahan milik kelompoknya, sepuluh persen di antaranya telah rusak akibat terjangan angin jenis tersebut. Untuk mengatasinya, sejumlah tanaman yang telah rebah itu kemudian di "pocong" agar bisa berdiri lagi. Hal itu bisa dilakukan pada tanaman yang berusia masih muda.

"Jika usianya telah tua, yakni umur 90 hari ke atas, petani memilih untuk memanen secara paksa, meskipun hal itu sebenarnya belum saatnya dilakukan," ujarnya.

Selain banjir, terjangan angin grubugan itu juga menyebabkan petani melakukan panen paksa. Padahal dampak dari panen paksa seperti itu, hasil panennya akan akan menurun.

Jika pada kondisi normal, khususnya pada MT I, petani dapat meraih hasil 7-8 ton gabah per hektare, akibat gangguan alam tersebut, hasilnya turun menjadi 6,5 - 7 ton/ha. "Kondisi tersebut jelas akan mengurangi keuntungan yang dinikmati petani," ujarnya.

Kualitas bulir padi yang dihasilkan dari panen paksa, kata dia, dipastikan akan berkurang. Kondisi tersebut dapat dilihat dari tingkat rendemen gabah yang dihasilkan.

"Jika dipanen paksa, rendemen hanya mencapai 50%, sedangkan normalnya berkisar 54% - 57%," ungkapnya.

Dampaknya, biasanya hal itu dimanfaatkan tengkulak untuk menekan harga jual gabah serendah mungkin. Jika pada pekan kedua bulan Januari 2006 harga gabah dalam bentuk kering panen masih menembus Rp 1.800/kg, kini diperkirakan akan anjlok menjadi Rp 1.500 - 1.600 per kilogram. (H8-54n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA