| Kamis, 26 Januari 2006 | MURIA |
Banjir, Sekolah DihentikanKUDUS - Banjir mempunyai dampak bagi kelangsungan proses pembelajaran di sekolah yang berada di lokasi banjir. Selama ini, langkah yang diambil pemerintah ketika banjir melanda sekolah dan lingkungan sekitarnya adalah menghentikan kegiatan belajar mengajar (KBM). Para siswa dipulangkan ke rumah masing-masing. Menurut Plt Kepala Dinas Pendidikan Kudus Drs Abdul Hamid MM ketika ditemui Suara Merdeka, Rabu (25/1), di ruang kerjanya, langkah tersebut diambil dengan pertimbangan keamanan dan kesehatan. "Sekarang kebetulan sekolah masih dalam masa liburan. Kelas III SMU 1 Bae tadi masuk, namum karena sekolahnya kebanjiran maka siswa dipulangkan lebih awal," ucapnya. Dia tidak memungkiri, akibat adanya pemulangan siswa dengan alasan bencana, peserta didik akan kehilangan jam efektif belajar. Dalam hal ini pihaknya akan mengatur pemenuhan kekurangan jam belajar tersebut. Pemetaan Dia mengemukakan, pihaknya telah membuat pemetaan, sekolah mana saja yang selama ini menjadi langganan banjir. Dia lantas menyebutkan sejumlah sekolah yang berada di lokasi potensial banjir. Antara lain SMA 1 Bae, SMP 1 Jekulo, SMP 2 Mejobo, SMP 2 Undaan, SD 3 Mejobo, SD 2 Mejobo, SD 2 Jojo, dan beberapa SD yang berada di Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu. "Hingga kini belum ada kerugian karena rata-rata banjir hanya sampai di halaman sekolah. Itu pun tingginya tak melebihi lutut," ungkapnya. Lebih jauh dia memaparkan, lantai gedung sekolah yang berada di wilayah rawan banjir akan ditinggikan. Proses pembangunan tersebut dilaksanakan secara bertahap. Khusus ruang yang berisi peralatan yang bernilai tinggi seperti ruang multimedia, komputer, dan laboratorium, kini telah ditinggikan. "Sekarang kondisi Siaga I, kami meminta sekolah yang bersangkutan untuk waspada. Kami menyiagakan petugas piket di sekolah tersebut sehingga begitu terjadi keadaan darurat, akan lebih cepat tertangani," tandasnya. (tik-17n) |