logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 26 Januari 2006 SEMARANG
Line

Jerit Petani Grobogan pada Musim Hujan

Panen tiba petani desa memetik harapan/
Bocah-bocah berlari lincah di pematang sawah....

PENGGALAN syair lagu milik Iwan Fals tersebut boleh jadi menggambarkan keceriaan warga desa yang sedang memanen padinya. Secercah harapan petani akan hasil panenan pun terpampang untuk memberikan penghidupan kepada seluruh keluarga. Panen padi di daerah Purwodadi, Grobogan kali ini memang bagus. Boleh dibilang tak ada hama ataupun wereng yang mengganggu tanaman mereka.

Namun hujan yang mengguyur terus-menerus dalam dua minggu belakangan telah mengubah keberuntungan mereka. Banyak gabah yang gabuk karena tak terjemur dengan baik akibat minimnya sinar matahari yang menerangi Kota Bersemi.

Tak hanya itu, bahkan tak sedikit gabah milik petani yang telah bertunas lantaran cuaca lembab dan kekurangan panas. "Biasanya kami menjemur gabah dalam dua hari sudah kering dan hasilnya bagus. Namun karena hujan terus mengguyur dalam dua pekan terakhir, paling tidak, dalam seminggu gabah itu baru kering. Hal itulah yang membuat kami merugi," ungkap Kamin (40).

Petani asal Ngramut, Desa Menduran, Kecamatan Brati, Grobogan itu sebenarnya bersukur karena panennya kali ini cukup bagus dan tidak diserang hama seperti musim lalu. Namun tanaman padi kali ini banyak yang roboh akibat hujan disertai angin yang cukup kencang beberapa hari lalu.

Saat ini harga gabah basah di tingkat petani sebenarnya cukup bagus, Rp 1.700 - Rp 1.800 per kilogram. Namun karena panen kali ini berlangsung dalam musim hujan, penyusutannya pun cukup banyak. Menurut Karmin, bila gabah benar-benar kering, satu kuintalnya setelah digiling bisa menjadi 55 kg beras.

"Namun karena gabah kurang kering, paling-paling hanya jadi kurang lebih 48-50 kg beras. Dengan harga beras IR 64 saat ini Rp 3.800/kg di tingkat pedagang, kalau dihitung-hitung kami justru rugi," paparnya.

Fitri (20), pemilik penggilingan padi di desa yang sama menuturkan, setiap kali panen dia bersama orang tuanya selalu membeli gabah dari petani dengan sistem jemput bola. Artinya, para pedagang selalu mendatangi para petani saat mereka memanen hasil tanamannya.

"Dengan mendung yang selalu menutupi matahari, gabah yang kami beli banyak yang tidak kering. Sebagian malah bertunas seperti saat hendak dijadikan benih. Kami memang merugi saat ini, semoga saat panen raya Februari mendatang cuaca sudah membaik sehingga gabah bisa benar-benar kering," ujarnya.

Petani lain, Muslihin (31), mengharapkan harga gabah tahun ini bisa sesuai dengan standar harga yang ada saat ini, yakni sekitar Rp 1.700 - Rp 1.800 pada saat panen raya.

Hal itu terjadi karena pada umumnya harga gabah di tingkat petani cenderung menurun drastis.

"Kami berharap Bulog mau membeli gabah petani pada saat panen pertama seperti sekarang. Pad umumnya Bulog membeli gabah dari pengepul setelah panen raya, yakni panen pada Maret-April. Kalau tetap seperti itu, yang diuntungkan bukan petani, tetapi para pengepul dan tengkulak. Kapan nasib kami bisa berubah?" ungkap warga Gundi, Godong tersebut.

Karena itu, dia mengharapkan kehadiran alat tepat guna pengering gabah yang harganya terjangkau oleh para petani, bukan hanya milik para juragan seperti yang terjadi saat ini. (Saptono JS, Aris M-18n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA