| Kamis, 26 Januari 2006 | KEDU & DIY |
Sup Pak Amad, Tetap Memakai TungkuMESKIPUN warung makan dan kaki lima semakin banyak, ''Sup Ayam Pak Amad'' di Jalan Pahlawan Kebumen tetap bertahan dengan ciri khasnya. Kuah sup sajian warung itu dimasak dalam gentong serta memakai bahan bakar arang dalam tungku. Ciri lainnya, memakai menu ayam kampung. ''Sejak kakek, kemudian Emak hingga saya gantikan, tetap dengan ayam kampung,'' ungkap Amad Chusaeri (53), penjual sup ayam warga Mertokondo, Desa Kutosari, Kebumen itu. Sup tersebut juga tetap disajikan dalam gerobak. Malah dulu gerobak Pak Amad masih memakai roda kayu. Namun sejak beberapa tahun lalu, roda kayu itu diganti dengan roda becak sehingga gerobak terasa lebih ringan saat didorong. Kini Amad memangkal tetap di Jalan Pahlawan barat BRI dan toko Rita Kebumen. Ciri lain sup Pak Amad, hanya buka pagi hingga siang hari. Dulu, pelanggan pada umumnya pegawai di lingkungan Pemkab, perbankan di Jalan Pahlawan, dan karyawan PT Telkom. Pendek kata, pelanggan sup itu orang kantoran. Amad mulai menggantikan profesi orang tuanya mulai 1970-an. Dia biasa berangkat dari rumah pada pukul 06.00, lalu berkeliling kompleks Pemkab. Biasanya, para pelanggan mulai menyetop sup Pak Amad di lapangam tenis samping pendapa Kabupaten Kebumen, Jl Mayjen Sutoyo dan di kantor Pemkab. Selanjutnya, bapak enam anak itu keliling lagi dan berjualan di depan Bank BNI Jalan Pahlawan. ''Dulu tiap hari saya diminta datang ke depan BNI sebelum pukul 07.00. Mereka sebelum bekerja sarapan sup saya,'' tutur Amad. Namun setelah memangkal di sebelah barat toko obat atau bergeser beberapa puluh meter ke barat, para karyawan bank datang saat jam olahraga atau pagi hari. Keuntungan Menipis Setelah sekitar 30 tahun berjualan sup ayam, Amad mengaku sebagai wong cilik, ia bersyukur dari jerih payahnya. Empat anaknya bisa tamat SMA berkat jualan sup. Kini ia masih membiayai dua anak di sekolah lanjutan. Dalam sehari, ia bisa memperoleh Rp 400 ribu kotor. Dia akan mempertahankan usaha itu. Apalagi ibunya, Ny Saiyah perbah berpesan. ''Timbang angel golek gaweyan, dodol sup iki wae wis genah (Daripada sulit mencari pekerjaan, tekuni saja ini yang sudah jelas)," ucap Amad menirukan pesan ibunya.(Komper Wardopo-39m) |