logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 26 Januari 2006 KEDU & DIY
Line

Rektor UMM : Citra Islam Tercemar

MAGELANG - Radikalisme ekstrem, dalam bentuk kekerasan berlabel agama di Indonesia, tampak semakin fenomenal sejak pecah kerusuhan di Ambon, Poso, Bom Bali I, dan II.

''Eksesnya, citra Islam yang damai dan membawa rahmatan lil'alamin sedikit banyak tercemar,'' kata Prof Dr H Achmadi, Rektor Universitas Muhamamdiyah Magelang, Rabu (25/1).

Dampak langsung yang dialami oleh umat Islam, yakni diobok-oboknya beberapa pesantren oleh aparat, karena diduga sebagai sarang teroris.

Sementara itu, dalam tataran global muncul anggapan, Islam identik dengan radikalisme, bahkan terorisme.

''Penilaian semacam itu tidak fair, karena esensi Islam adalah agama yang antikekerasan, cinta damai,'' ujarnya.

Fenomena kekerasan dan teror bukan hanya muncul dari komunitas muslim, tetapi juga banyak terjadi di lingkungan agama-agama lain seperti Hindu di India dan Kristiani di Irlandia Utara, yang telah berlangsung ratusan tahun.

Sementara itu, dari kalangan muslim muncul anggapan, peristiwa-peristiwa kekerasan dan teror sebagai skenario Barat, khususnya Amerika Serikat, untuk melanggengkan adikuasanya. Lantas Islam dijadikan musuh utama, yang harus ditundukkan.

Menurut dia, multikulturalisme dalam konteks agama berkembang menjadi pluralisme agama, yakni bentuk antitesis dari radikalisme agama. Dalam batas-batas tertentu, pluralisme agama hanya bertujuan untuk menciptakan kerukunan hidup umat beragama.

Namun, ketika pluralisme mengarah ke sinkretisme agama dan nihilisme serta menafikan keyakinan akan kebenaran untuk agamanya sendiri, maka akan ditolak oleh pemeluk agama yang memandang agamanya sebagai way of life.

''Situasi dilematis antara tarikan radikalisme dan pluralisme inilah yang mendorong upaya untuk menemukan landasan sikap wasyathan (moderat) tanpa harus terjebak pada radikalisme ekstrem (ifrath), yang cenderung terhadap tindak kekerasan atau pluralisme ekstrem (trafrith) yang mengarah ke sinkritisme agama dan nihilisme,'' tutur Rektor UMM, Achmadi.

Diseminarkan

Fenomena radikalisme dan pluralisme akan dipotret dalam seminar internasional agama, radikalisme, dan multikulturisme, dengan pendekatan yang cerdas, jujur, dan objektif, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Seminar yang akan diselenggarakan Jumat (3/2) itu melibatkan para pakar Barat, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan ganda, yakni mampu memahami peristiwa-peristiwa lokal dalam perspektif global.

Di sisi lain, pandangan moderat yang berkonsentrasi terhadap nilai-nilai dasar Islam yang antikekerasan dan yang damai dengan misi rahmatan lil'alamin dapat disosialisasikan ke masyarakat Barat, yang masih mengidentikkan Islam dengan kekerasan.

Akan tampil sebagai pembicara, Prof Dr HM Amien Rais (Guru Besar Ilmu Poltik UGM) dan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr H Amin Abdullah MA.

Adapun dua pembicara mancanegara yang tampil, masing-masing Maqsood Ahmed OBE (Minority Faith Adviser, Home Office UK, Government) dan Tahir Abbas PhD (Departement of Sociology The University of Birmingham). (pr-39h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA