logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 26 Januari 2006 INTERNASIONAL
Line

Amerika Bantah Laporan Dewan Eropa

WASHINGTON - Pemerintah Amerika Serikat membantah laporan Dewan Eropa yang menyebutkan, AS menempatkan lebih dari 100 tersangka teror dalam program ''rendition'' rahasianya di Eropa.

Juru bicara Deplu AS Sean McCormack menyebut pernyataan anggota parlemen Swiss Dick Marty 'laporan usang yang dikemas dalam retorika baru.''

''Tidak ada sesuatu yang baru; tanah lama diluku lagi,'' kata McCormack. Dia menyatakan Menlu Concoleezza Rice telah menjawab dengan memuaskan pertanyaan tentang operasi-operasi ''rendition'' selama lawatannya ke Eropa bulan November lalu.

Selasa lalu (24/01), Dewan Eropa mengeluarkan laporan sementara penyelidikan yang dipimpin Marty. Laporan itu menyebutkan, negara-negara Eropa seharusnya tahu bahwa AS menggunakan wilayah mereka untuk memindahkan atau menahan lebih dari 100 tersangka teroris sebagai bagian dari kebijakan ''rendition''.

''Pengaruh 'rendition' di Eropa tampaknya mengkhawatirkan lebih dari 100 orang dalam beberapa tahun terakhir. Ratusan pesawat yang dicarter CIA melintasi sejumlah negara Eropa,'' kata Marty.

''Ada bukti - dan faktanya tidak pernah dibantah - bahwa sejumlah orang telah diculik, dikekang kebebasannya dan dibawa ke Eropa. Mereka diserahkan ke negara-negara Eropa itu untuk disiksa,'' jelasnya.

Penjelasan Rice

McCormack membantah tuduhan Marty itu dengan mengulangi lagi hal pokok yang disampaikan Rice selama lawatannya.

''Pertama, AS tidak melakukan penyiksaan; kami menghormati kedaulatan rekan dan sekutu kami di Eropa.''

''AS tidak memindahkan orang-orang ke tempat-tempat yang memungkinkan mereka disiksa. Dan yang terpenting, AS dan Eropa tengah berjuang memerangi terorisme.''

Setelah laporan pers tentang penanganan CIA terhadap tersangka teroris di Eropa muncul tahun lalu, beberapa negara Eropa mengeluh. Mereka membantah mengetahui operasi-operasi rahasia itu. Namun, mereka lebih tenang setelah bertemu dengan Rice.

Namun Marty mengatakan mereka mungkin mengetahui operasi tersebut kala itu. ''Hampir tidak mungkin bahwa negara-negara Eropa, atau paling tidak dinas intelijen mereka, tidak mengetahuinya,'' jelasnya. (afp-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA