| Rabu, 25 Januari 2006 | SALA |
Solo Jadi Magnet Pelestari Koes Plus (1)Mencari Kesegaran dan Kangen pada Kenangan LamaSELAMA dua hari, yakni Sabtu dan Minggu lalu dari pagi hingga sore, untuk kali keempat Taman Hiburan Remaja (THR) Sriwedari menggelar parade band pelestari album-album Koes Plus. Dalam dua hari lebih dari seratus lagu yang diciptakan kelompok musik legendaris itu diperdengarkan di taman hiburan yang berada di kompleks Taman Sriwedari. Itu berarti sudah empat tahun ini kelompok-kelompok band yang menspesialisasikan diri sebagai pemain album-album Koes Plus bisa berkirpah dan berekspresi lewat parade itu. Tak hanya spesialisasi mendendangkan lagu-lagu grup legendaris yang personel aslinya tinggal Yon Koeswoyo itu, para generasi muda pelestari juga banyak yang kepengin mengupayakan diri serta meniru penampilan dan gaya permainannya mirip dengan almarhum Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo, dan Murry. Tak banyak yang tahu, mengapa demam lagu-lagu lawas dari album-album yang pernah berjaya di tahun 1960an atau 1970-an itu begitu besar gregetnya di Solo. Mengapa pula ketika berbicara soal hiburan lagu-lagu Koes Plus dan lagu-lagu lama lainnya harus menunjuk THR Sriwedari? Mengapa ketika orang butuh suasana santai sambil mendengarkan lagu-lagu serial Nusantara harus datang ke taman di kawasan Sriwedari itu setiap Senin dan Kamis malam? Tampak tak disadari ide pengelola THR mencoba-coba menyuguhkan menu selain dangdut dan campursari itu kini menuai sukses dan pujian dari sana-sini. Artinya, sekalipun belum berhasil betul dalam mendapatkan pemasukan yang setimpal dari investasi yang ditanam, mampu menyuguhkan album-album Koes Plus dan tembang-tembang kenangan lain yang secara psikologis dan sosial jauh lebih terasa dibandingkan dengan ketika mementaskan grup dangdut dan campursari setiap malam Minggu dan malam Senin. Bermula dari rasa kangen masyarakat pecinta musik dan tembang-tembang kenangan THR menghadirkan Nusantara Band asal Solo binaan MM Rahardjo dan Hoss Band dari Yogyakarta. Diselang-seling dengan beberapa grup pemula di jalur Koes Plus lainnya, ditetapkan hari Senin dan Kamis malam untuk menyuguhkan album-album Koes Plus. Tumbuh Pesat Seiring dengan dengan suasana kehidupan yang ingin mencari kesegaran dan kerinduan terhadap kenangan lama, komunitas pecinta lagu-lagu Koes Plus lama-kelamaan tumbuh pesat di THR Sriwedari. Bahkan Koes Plus Fans Club (KPFC) Surakarta yang terbentuk memberi dorongan begitu besar untuk mengadakan parade band pelestari Koes Plus sejak 2002 lalu. Hasil yang tampak pada tahun lalu adalah 17 grup peniru Koes Plus di Solo dan sekitarnya tampil dan kerap mengisi acara Koes Plusan di THR setiap Senin dan Kamis malam. Mereka itulah yang mampu memobilisasi para pendukung menjadi pecinta Koes Plus sekaligus grup-grup peniru itu yang setiap Kamis malam memenuhi THR Sriwedari dan jumlahnya menembus angka 3 ribu orang. "Sekali angka itu bisa tertembus di acara Koes Plusan Kamis malam di sini. Tetapi rata-rata setiap malam Jumat selalu di atas seribu orang," tutur Retno Ariani, Sekretaris THR yang dibenarkan oleh Asisten Manajer I Putu Sukiada. Keberhasilan THR memicu orang untuk bebas berekspresi serta membentuk komunitas yang diikat karena memiliki kesukaan yang sama terhadap album-album Koes Plus itu bukan berarti akan makin menjadi magnet yang mampu menarik potensi di sekitarnya hanya ke satu arah. Belakangan bermunculan potensi-potensi pesaing lain yang ingin menjadi magnet suasana dan era keranjingan ber-Koes Plus ria tersebut. Selain THR, banyak tempat dan kesempatan bermunculan menggelar acara Koes Plusan, baik untuk sekadar hiburan antarsahabat yang bereuni maupun terang-terangan mengemas pertunjukan bertema itu dengan menjual tiket masuk ratusan ribu rupiah. Misalnya sebuah komunitas di Klaten yang mengundang Koes Plus baru, Murrys Group, atau Nusantara Band beberapa waktu lalu. Kemudian sebuah acara Koes Plusan yang seringkali digelar di Gedung Grha Saba Buana milik Wali Kota Joko Widodo. Bahkan sudah dua kali hingga tutup tahun 2005 lalu beberapa hotel berbintang di Solo menggelar acara serupa dengan menjual tiket Rp 150 ribu/kursi disertai iming-iming hadiah hadir. Kian menggejala orang menyukai kenangan lama tidak hanya terwujud pada jumlah grup band yang khusus mendendangkan lagu-lagu Koes Plus. Melainkan sudah sampai pada keterbentukan komunitas pecinta, serta sosialisasi tembang-tembang dan grup pelestarinya sampai ke kampung-kampung. Pentas tujuhbelasan saja harus menyajikan album-album Koes Plus, bahkan mengundang Nusantara Band atau grup peniru lainnya. (Won Poerwono-27) |