| Rabu, 25 Januari 2006 | PANTURA |
''Tak Biasa Cium Tangan Ayah-Ibu"NENO Heru Suarsono (60), ayah Agus Herwanto (35), warga Jalan Slamet RT 9 RW 1 Kota Tegal merasakan hal yang lain menjelang keberangkatan anaknya. Menjelang keberangkatan dengan KM Dharma Samudra kali pertama, Agus berpamitan dengan mencium tangan ayah dan ibunya lama. Sebelumnya, hal itu tidak pernah dilakukan oleh anak dengan pendidikan terakhir SD tersebut. Selain itu, Neno juga heran Agus menitipkan KTP asli kepadanya. "KTP asli kok dititipkan, nanti kamu bagaimana?" ujar Neno, mengulang pernyataannya waktu anaknya berpamitan sebulan lalu. Kemudian dijawab Agus, kalau dirinya sudah mempunyai fotokopi KTP tersebut. Neno menilai, meskipun anak keduanya itu kurang pandai, tingkah laku dan sopan santun terhadap orang yang lebih tua serta teman-teman lain membuat dia banyak disukai. "Agus sangat hormat terhadap orang tua. Dia juga selalu menggunakan bahasa krama inggil ketika berbicara dengan kami," tutur Neno. Anak kedua dari enam bersaudara itu, diketahui rajin shalat sejak setelah Lebaran. "Saya agak terkejut ketika mengetahui anak saya yang jarang shalat, tiba-tiba rajin," ucapnya. Agus sudah menjadi nelayan sejak 10 tahun lebih. Keikutsertaannya menjadi ABK kapal purseseine Dharma Samudra baru kali ini. Agus terkenal sebagai orang yang periang dan ringan tangan serta pekerja keras. "Dia juga suka mengerjakan pekerjaan sampai tuntas. Dia tidak akan berhenti mengerjakan suatu pekerjaan setengah-setengah. Saya melihat dia sebagai orang yang tak mengenal lelah," paparnya. Dia kembali tinggal dengan Neno setelah bercerai beberapa waktu lalu. Berharap Selamat Jika peristiwa nahas yang menimpa kapal tersebut membawa maut anaknya, Neno berharap jenazah anaknya dapat dikirim ke Tegal untuk dimakamkan. Meski demikian, dia sangat berharap anaknya kembali dalam keadaan selamat. Atas kejadian yang menimpa anaknya dan puluhan ABK lain yang menimbulkan trauma, Neno berharap aparat keamanan dapat mengusut secara tuntas. "Hal ini demi keamanan nelayan-nelayan Jawa Tengah lainnya, yang melaut sampai pulau lain," ujar dia. Dia prihatin dengan peristiwa pembakaran kapal tersebut. Seperti yang terjadi sebelumnya, pembakaran kapal milik nelayan Juwana baru-baru ini sangat disesalkan. Belum lagi pembajakan yang dialami nelayan Kota Tegal di tengah laut. "Seharusnya kapal-kapal asing yang jelas-jelas merugikan yang diusir, bukan kapal negeri sendiri yang jaringnya termasuk diizinkan," tambah dia.(Siti Kholidah-52s) |