logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 25 Januari 2006 PANTURA
Line

Pelat Kopling Pantek Perpanjang Umur Kendaraan

TIDAK semua pemilik kendaraan mampu membeli onderdil baru di toko. Jika sudah kepepet, dan saku cekak, sementara kendaraan harus terus jalan, Andiyanto Saputra menawarkan alternatif dengan produk pelat kopling pantek.

Sepintas barang produksi lelaki satu anak itu adalah barang baru. Bedanya, tidak menggunakan dus atau pembungkus seperti keluaran pabrik. Daya tahan pemakaiannya juga terbilang cukup panjang, untuk kendaraan pribadi bisa bertahan dua tahun. Namun, untuk kendaraan umum seperti taksi atau angkutan antarkota paling lama satu tahun.

Fungsi pelat kopling adalah memutar matahari di bagian belakang mesin. Jika pelat kopling sudah aus, daya dorong putaran akan semakin melemah. Jika pemilik kendaraan tak punya uang cukup untuk mengganti yang baru, Andiyanto menyediakan jasa pemantekan dengan mengganti pelat kopling saja.

Yang ingin langsung pasang disediakan pelat kopling untuk semua jenis kendaraan. Mulai dari bus, truk, station, sampai sedan.

Usahanya berada di Jl Kapten Sudibyo atau di pertigaan Kampung Tirus, Kota Tegal. Di situ dia sebagai pekerja, pemiliknya adalah Komarudin, asal Bumiayu, Brebes.

Menurut dia selisih harga toko dengan barang produksinya sangat jauh sekali. Dia menyebut kopling Toyota Kijang yang di toko seharga Rp 310.000, di situ dijual hanya Rp 60.000 per unit. Untuk jenis kendaraan Suzuki Carry hanya Rp 50.000, truk PS Rp 120.000 per unit.

''Pokoknya barang di sini lebih murah daripada di toko. Makanya para pemilik angkutan umum memilih pelat kopling pantek ketimbang beli di toko,'' paparnya.

Dicat Pernis

Andiyanto mengaku memperoleh bahan baku pelat kopling bekas dari beberapa bengkel. Dia membeli harga murah. Barang tersebut pertama dilepas pada bagian asbes. Kemudian pada bagian dasar berupa bulatan besi diamplas, selanjutnya dicat dengan warna hitam. ''Supaya kelihatan seperti baru pelat kopling diberi cat pernis supaya mengkilap.''

Setelah bahan baku dicat, dia memasang asbes baru produksi pabrikan. Cara pemasangan dengan sistem keling, supaya kuat. Untuk mendapatkan asbes dia sengaja membeli dari Bekasi.

Dia tak mau menyebutkan harga satuan asbes kopling, maupun kopling bekas yang dibeli itu. Yang jelas menurut dia harga sangat murah.

Berjualan pelat kopling pantek, lanjut dia, harus sabar. Satu hari tak ada yang beli adalah hal biasa, namun sebaliknya satu hari melayani empat sampai lima unit juga sering.

Dalam situasi harga onderdil mahal, tidak semua pemilik kendaraan datang ke kiosnya. Namun, yang pasti pelanggannya dari kalangan pengusaha angkutan cukup banyak.

Mereka memilih barang pantek, kemungkinan karena pertimbangan harga. Selain juga faktor usia kendaraan. Sedangkan pemilik kendaraan pribadi umumnya kendaraan tua yang sulit mendapatkan di toko.

Usaha kopling pantek itu, menurut Andiyanto, merupakan usaha keluarga. Sejumlah keluarganya membuka cabang di berbagai kota antara lain di Demak, Jl Barito Semarang, di Yogyakarta, Tegal, Slawi, dan Brebes.

Sebelum membuka usaha di Kota Tegal, dia membuka usaha di Slawi selama lima tahun. Sebelum di Slawi dia mendirikan di Bumiayu, Brebes selama 10 tahun. Di Jl Kapten Sudibyo Kota Tegal, dia menyewa satu rumah kecil di pinggir jalan strategis, satu tahun sewa rumahnya Rp 2 juta.

Tentang keuntungan dari usaha tersebut, lelaki bertubuh kekar itu keberatan menyebutkan. Namun, dia merasa bersyukur bisa menghidupi seorang istri dan satu anaknya. (Wahidin Soedja-19)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA