| Rabu, 25 Januari 2006 | PANTURA |
Yayasan Tunggu Pertemuan dengan Bupati
PEMALANG- Kondisi keuangan Rumah Sakit Islam (RSI) Al Ikhlas Pemalang hingga kini belum pulih. Sejak Desember lalu, bangunan yang berada di jalan lingkar selatan Desa Taman itu masih ditutup tidak menerima pasien. Ketua Yayasan Al Ikhlas Drs Laswadi mengungkapkan, hingga kini pihaknya belum memiliki dana untuk membuka RSI seperti sediakala. Hal itu disebabkan kebutuhan operasional cukup tinggi. Harga obat-obatan dan alat-alat medis naik mengikuti kenaikan harga BBM. ''Sepuluh tahun terakhir kami memang bisa berjalan, karena harga kebutuhan operasional masih stabil. Namun ketika harga BBM naik, kami mengalami kesulitan,'' katanya. Pihaknya kini masih menginginkan rumah sakit yang didirikan oleh dana umat Badan Amal Zakat Infaq dan sedekah (BAZIS) dapat beroperasi kembali, karena masih dibutuhkan oleh masyarakat. Di samping itu, masih bisa dikembangkan lagi, baik dari segi fisik maupun pendapatan. Namun untuk memulainya harus ada dana yang kuat. Dipandang dari tempatnya, RSI berada pada lokasi yang cukup strategis. Alat transportasi juga mudah menuju ke sana. Dia mengatakan, upaya yang sudah dilakukan sekarang ini yakni telah menghubungi beberapa organisasi umat, seperti NU, Muhammadiyah, MUI, dan Pemkab. Secara lisan sudah ada dari orang-orang Muhammadiyah yang menginginkan mengambil alih RSI, sedangkan yang sudah mengirim surat penawaran secara resmi dari umat Buddha. Tanggapan masyarakat seperti itu belum bisa disikapi. Sebab, meruntut sejarah berdirinya RSI tidak lepas dari peran Pemkab. Maka, langkah penanganan akan dibicarakan dahulu dengan Bupati. Tak Ada Gejolak Menurut Laswadi, pihaknya belum membicarakan dengan pihak-pihak yang sudah berminat mengambil alih. Hal itu akan dilakukan setelah ada pertemuan Yayasan Al Ikhlas dengan Bupati HM Machroes SH. Dalam pertemuan tersebut diharapkan akan diperoleh solusi yang baik. Dulu, menurut rencana pertemuan dengan Bupati dilakukan Januari ini. Namun karena Pemkab masih sibuk, antara lain menyiapkan pelantikan bupati terpilih dan merayakan hari jadi, kemungkinan pertemuan baru bisa dilaksanakan setelah Januari. Mengenai honor para karyawan, dia mengakui, hingga kini belum dibayar tiga bulan, yakni November, Desember, dan Januari. Namun, tidak ada gejolak. Sebab, umumnya karyawan mengerti akan kondisi yayasan serta masih ada harapan RSI beroperasi kembali. Kehidupan manajemen RSI selama ini ditopang oleh dana bantuan dari beberapa pihak, sedangkan bantuan dari Bupati baru diterima sekali. Yakni pada November 2005 Rp 10 juta. Dana sebesar itu telah digunakan untuk membayar honor karyawan September dan Oktober. Sementara, November hingga Januari belum dibayarkan.(sf-52s) |